BAB I
CARDIOVASCULAR
MI (Myocardial
Infarction)
Definisi/Pengertian
Myocardial
Infarction/miokardiak infark (MI) merujuk pada suatu proses dinamik dimana
jantung mengalami penurunan oksigen yang berat dan lama karena aliran darah
koroner yang tidak mencukupi; sebagai akibatnya nekrosis atau “kematian”
jaringan otot jantung terjadi. MI mungkin terjadi secara tiba-tiba atau
berangsur, dan berkembangnya kejadian sampai komplet memerlukan waktu kira-kira
3 sampai 6 jam. MI adalah salah satu manifestasi acute corronary syndrome
(ACS).
Patofisiologi
dan etiologi
Thrombosis
koroner akut (partial atau total)—berhubungan dengan 90% MI. CAD (Coronary
Artery Disease) berat (> 70% penyempitan arteri) menjadikan presipitasi
pembentukan trombus. Langkah pertama pada pembentukan thrombus melibatkan
pecahnya plaque, kemudian platelet melekat pada area yang rusak. Selanjutnya,
activasi platelet yang terekspos menyebabkan ekspresi reseptor glycoprotein
IIb/IIIa yang mengikat fibrinogen. Akhirnya, agregasi platelet dan perlengketan
terjadi, memperluas thrombus dan menyumbat artery. Faktor etiologi yang lain
termasuk spasme artery koroner, emboli arteri koroner, penyakit infeksi
meyebabkan peradangan arteri, anemia.
Perbedaan
derajat kerusakan yang terjadi pada otot jantung:
- Zone necrosis—kematian otot
jantung yang disebabkan oleh tidak adanya oksigen yang meluas dan komplet;
kerusakan irreversible.
- Zone injury—area otot jantung yang
mengelilingi area yang nekrosis; meradang dan cidera, tapi masih hidup
jika oksigen yang cukup dapat diberikan.
- Zone ischemia—area otot janutng
yang mengelilingi area cidera, yang tampak iskemih dan hidup; tidak
membahayakan kecuali perluasan infark terjadi.
Klasifikasi MI
- STEMI—elevasi segmen ST terlihat
pada ECG. Area nekrosis mungkin atau mungkin tidak terjadi pada seluruh
otot jantung
- NSTEMI—elevasi segemn ST tidak
terlihat pada ECG. Depresi ST juga inversi gelombang, T, dan gejala klinik
(nyeri dada).
Area nekrosis mungkin atau mungkin
tidak terjadi pada seluruh otot jantung. Area otot jantung yang menjadi terkena
tergantung pada arteri yang menjadi penyumbat. ,
- Ventrikel kiri merupakan lokasi
yang umum dan berbahaya pada MI karena itu merupakan bilik jantung pemompa
utama.
- Infark ventrikel kanan umumnya
terjadi dengan kerusakan di dinding inferior dan atau posterior dinding
ventrikel kiri.
Manifestasi
klinis
Nyeri dada:
- Berat, diffuse, nyeri substernal
yang terus-menerus; mungkin digambarkan seperti ditekan, diremas-remas.
- Tidak mereda dengan istirahat atau
terapy vasodilator sublingual, tapi memerlukan opioid.
- Mungkin menjalar ke lengan
(biasanya kiri), bahu, leher, punggung dan atau dagu.
- Berlangsung lebih dari 15 menit.
- Mungkin menimbulkan kecemasan dan
ketakutan, mengakibatkan peningkatan dalam heart rate, tekanan darah dan
RR.
- Beberapa pasien tidak menunjukkan
keluhan nyeri.
Manifestasi
klinis
1.
Diaphoresis,
kulit lembab dan dingin, wajah pucat.
2.
Hypertensi atau
hypotensi
3.
Bradycardi atau
tachycardi
4.
Denyut ventrikel
prematur
5.
Palpitasi,
kecemasan hebat, dyspnea
6.
Disorientasi,
gelisah
7.
Pingsan,
kelemahan
8.
Nausea, muntah,
cegukan
9.
Gejala atypical
: distress epigastric atau abdomen, nyeri tumpul atau sensasi kesemutan, nafas
pendek, fatigue yang ekstrem.
Evaluasi Diagnostik
- Perubahan ECG
Umumnya terjadi dalam 2 sampai 12 jam,
tapi mungkin 72 sampai 96 jam. Jaringan yang necrotic, cidera, dan ischemic
mengubah depolarisasi dan repolarisasi ventrikel.
- Depresi segmen ST dan inversi
gelombang T mengindikasikan pola ischemia.
- Elevasi ST mengindikasikan pola
cidera.
- Gelombang Q mengindikasikan
jaringan nekrosis dan permanen. Gelombang Q patologis lebih dari 3 mm
dalamnya atau lebih besar dari 1/3 tinggi gelombang R.
Lokasi infark (dinding anterior,
anteroseptal) ditentukan oleh leads dimana perubahan iskemik terlihat.
- Gelombang Q abnormal
- Penilaian jantung Nonspecific
markers
Semua sel otot termasuk otot jantung
terdiri dari enzym protein atau nilai biokimia yang bocor jika sel-selnya
rusak.
- Peningkatan dalam penilaian
jantung mengkonfirmasi kematian sel jantung. Namun penilaian nonspesifik
dapat meningkat dari kerusakan organ lain, sehingga tidak membantu secara
rutin dalam diagnosis MI.
- Penilaian ini termasuk lactate
dehydrogenase, aspartate aminotransferase, dan myoglobin.
- Penilaian jantung spesifik
Troponin—protein sel otot kontraktil
dan mempunyai 3 sub unit : troponin C, troponin I, dan troponin T. Troponin I
dan T adalah spesifik jantung. Peningkatan yang berlebihan dari rentang normal
dalam 24 jam pertama setelah kejadian koroner akut dipertimbangkan sebagai
iskemia myokardium. Troponin mungkin juga digunakan dalam hubungannya dengan
atau menggantikan CK-MB sebagai standar diagnosis MI. CK—penilaian nonspesifik,
tapi lebih spesifik jika terpecah dalam sub unitnya, yaitu CK-MB yang merupakan
isoenzym CK yang ditemukan dalam jantung.
Manajemen
Therapy
bertujuan untuk mengembalikan iskemia untuk memelihara fungsi otot jantung,
menurunkan ukuran infark dan mencegah kematian. Terapy modalitas innovatif
memberikan perbaikan dini aliran darah koroner. Penggunaan age farmakologis
memperbaiki suplai oksigen, menurunkan dan mencegah dysrythmia, dan menghambat
perkembangan CAD. Perfusi segera diharapkan.
Terapy
farmakology
Terapy
farmakology untuk MI standar, yaitu MONA—acronym dari terapy standar yang
dipakai untuk mengatasi MI:
- M (Morphine)—diberikan I.V.
digunakan untuk mengatasi nyeri. Katekolamin Endogenous dilepaskan selama
nyeri menyebabkan peningkatan workload jantung, yang mengakibatkan
peningkatan dalam tuntutan oksigen. Efek analgetik morfin menurunkan
nyeri, menurunkan kecemasan, dan memperbaiki CO dengan menurunkan preload
dan afterload.
- O (Oxygen)—diberikan melalui nasal
kanula atau face mask. Meningkatkan oksigenasi ke otot jantung yang
iskemik.
- N (Nitrate)—diberikan sublingual,
spray, I.V. Terapy vasodilator dengan menurunkan pengembalian darah ke
jantung dan menurunkan tuntutan oksigen.
- A (Aspirin)—dosis segera melalui oral
direkomendasikan untuk menghentikan agregasi platelet.
Obat-obatan yang lain:
- Agent Thrombolytic seperti
activator plasma jaringan (Activase), streptokinase (Streptase), dan
reteplase (Retavase),Memelihara kembali aliran darah dalam pembuluh darah
koroner dengan melarutkan thrombus, diberikan I.V. atau I.C.
- Anti-arrhythmia, seperti amiodarone, menurunkan
iritabilitas ventrikel yang terjadi setelah MI. diberikan I.V. melalui
bolus, kemudian infus selama 24 jam.
Percutaneous Coronary Interventions
- Percutaneous coronary
interventions (PCIs), termasuk percutaneous transluminal coronary
angioplasty, coronary stenting, dan atherectomy
Komplikasi
- Dysrhythmia
- Kematian jantung mendadak karena
aritmia ventrikel.
- Infark yang meluas.
- Gagal jantung (dengan 20% sampai
35% kerusakan ventrikel kiri)
- Reinfarksi
- Ischemic cardiomyopathy
- Ruptur jantung
- Thromboemboli
- Aneurisma Ventrikel
- Tamponade jantung
- Pericarditis (2 sampai 3 hari
setelah MI)
- Dissection arteri koroner selama
angioplasty
- Maslah Psychiatric —depressi,
perubahan kepribadian.
Pengkajian
Keperawatan
- Kumpulkan informasi berkaitan
dengan nyeri dada:
- Intensitas—Gambarkan nyeri dengan
kata-kata pasien sendiri dan bandingkan dengan pengalaman nyeri
sebelumnya.
- Serangan dan durasi—waktu yeri
terjadi juga waktu nyeri mereda atau berkurang.
- Lokasi dan radiasi—tunjukkan
titik dimana nyeri berada dan area lain yang mungkin menjalar.
- Faktor precipitasi yang
memperburuk—jelaskan aktivitas yang dilakukan sebelum serangan nyeri,
tindakan untuk mengurangi nyeri, obat-obatan yang diminum.
- Tanyakan pasien tentang gejala
lain yang dialami berhubungan dengan nyeri.
- Observasi pasien terhadap
diaphoresis, wajah pucat, perilaku melindungi diri, postur tubuh yang
kaku, kelemahan yang ekstrem dan konfusi.
- Evaluasi status cognitif, perilaku
dan emosi.
- Tanyakan pasien tentang status
kesehatan sebelumnya dengan menekankan pada obat-obatan yang dipakai saat
ini, alergy (opiate, analgesics, iodine, kerang), trauma saat ini atau
pembedahan, penggunaan alkohol.
- Kumpulkan informasi tentang ada
atau tidaknya faktor risiko jantung.
- Identifikasi sistem dukungan
sosial pasien dan potensial pemberi perawatan.
- Identifikasi reaksi lain terhadap
situasi krisis.
FORMAT PENGKAJIAN
Tanggal MRS : Kamis, 25 April
2013 Jam Masuk : 13.00 WIB
Tanggal
Pengkajian : 25 April
2013 No.
RM : 11.09.68
Jam
Pengkajian :
17.00
WIB
Diagnosa
Masuk : AMI
(acute Myocardial Infarction)
Ruang/ Kelas :
Jasmine 208
IDENTITAS
Nama
: Tn. M.A
Umur : 60 tahun
Suku/
Bangsa : MINAHASA/ WNI
Agama : Kr. Protestan
Alamat
: Airmadidi
Pekerjaan
: PNS (Pegawai Negri)
Keluhan Utama : Nyeri dada
Riwayat
Penyakit Sekarang
Pasien sudah merasakan nyeri dada sebelah kiri sejak 4 bulan yang lalu dan
nyerinya ilang timbul, pasien katakana nyeri hilang di saat pasien istirahat,
pada tanggal 25 April 2013 pasien merasakan sakit dada tidak seperti biasanya
dan di ikuti dengan sesak nafas, kemudian keluarga mengantar pasien ke RSAM
tepatnya di UGD.
RIWAYAT
PENYAKIT DAHULU
Menurut pasien
dan keluarga bahwa pasien tidak ada riwayat penyakit terdahulu, dan Sebelumnya
tidak ada batuk darah, keringat dingin, DM, HT, asma, alergi.
RIWAYAT PENYAKIT
KELUARGA
Menurut keterangan dari pasien dan keluarga, dalam keluarga pasien
tepatnya ayah dari pasien mengalami gangguan pada jantung, tapi keluarga tidak
tahu kalau secara spesifik kalau jenis penyakitnya sama persis dengan pasien
saat ini.
PERILAKU YANG
MEMPENGARUHI KESEHATAN
Pasien merupakan perokok aktif dan sesekali minum minuman beralkohol.
Dalam sehari pasien bias menghabiskan rokok sampai 2 bungkus. Pasien sudah
mengerti tentang kebiasaannya ini bias mempengaruhi kesehatannya.
OBSERVASI DAN
PEMERIKSAAN FISIK
Tanda Tanda
Vital
Kesadaran compos mentis.
Tanda-tanda vital:
Suhu:
37˚C Nadi:
96×/ menit. RR:27x/menit
TD:150/90mmHg
Sistem
Pernafasan (B1)
Nafas pasien tersengal-sengal cepat, pendek, Tidak ada
pernafasan cuping hidung dan tidak ada retraksi otot bantu nafas. Gerak dada
kiri dan kanan simetris, pasien menggunakan alat bantu nafas.
Sistem
Kardiovaskuler (B2)
Pasien mengalami nyeri dada, irama jantung iregular, dan
akral dingin.
Sistem
Persyarafan (B3)
Pasien tidak merasa pusing, tidak terdapat gangguan
pendengaran, dan tidak mengalami gangguan penciuman.
Sistem
Perkemihan (B4)
Menurut pasien, alat genetalia nya dalam kondisi bersih,
dan tidak mengalami keluhan kencing, dan tidak terpasang kateter.
Sistem Pencernaan
(B5)
Mulut pasien tampak bersih, lembab dan tidak ada
stomatitis, tidak bau mulut, gigi sempurna (tidak terdapat karies gigi), lidah
merah, kelainan tidak ada, pasien tidak mengalami gangguan menelan, peristaltic
9x/ menit dengan suara peristaltic terdengar lemah, BAB 1x sehari dengan
konsistensi lunak warna kecoklatan, dan bau khas, nafsu makan menurun.
Sistem
Muskoleskeletal (B6)
Pergerakan sendi pasien bebas, tidak mengalami fraktur.
Tidak mengalami kelainan tulang belakang, permukaaan kulit terlihat mengkilat,
dan tekstur halus. Rambut putih hitam bersih, tidak terdapat dekubitus. Pasien
mengalami intoleransi aktifitas dikarenakan jika terlalu banyak bergerak, akan
timbul sesak napas.
Sistem
Endokrin
Leher pasien tidak terlihat membesar, saat pemeriksaan
Pasien tidak mengalami pembesaran kelenjar tiroid dan tidak mengalami
pembesaran kelenjar betah bening, Hiperglikemia (-), hipoglikemia (-).
PENGKAJIAN
PSIKOSOSIAL
Pasien tidak mengalami gangguan pada psikososial. Pasien dapat
berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya dan dapat kooperatif dengan tenaga
medis.
PERSONAL
HYGIENE DAN KEBIASAAN
Klien mengatakan mandi sehari 2x dan keramas 2 hari sekali. Kuku terlihat
bersih dan pendek, membersihkan diri, jam istirahat, dan makan. Semua nya
terlihat bersih dan rapi, pakaian ganti sehari 2x, menggosok gigi 2x sehari,
tidak lupa untuk membersihkan telinga serta lubang hidung setiap hari.
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
1.
Elektrokardiografi
: perubahan gelombang T dan ST elevasi
Diagnosa
Keperawatan
- Nyeri akut berhubungan dengan
ketidakseimbangan tuntutan dan suplai oksigen.
- Cemas berhubungan dengan nyeri
dada, takut kematian, lingkungan yang mengancam.
- Penurunan CO berhubungan dengan
gangguan kontraktilitas.
- Intolerasi aktivitas berhubungan
dengan oksigenasi yang tidak cukup untuk melakukan aktivitas sehari-hari,
efek kondisi bed rest (tirah baring).
- Risiko cidera (perdarahan)
berhubungan dengan disolusi pelindung pembekuan.
- Perfusi jaringan (otot jantung)
tidak efektif berhubungan dengan restenosis koroner, meluasnya infark.
- Koping tidak efektif berhubungan
dengan ancaman harga diri, kerusakan pola istirahat-tidur, berkurangnya
sistem pendukung dan kehilangan kontrol, perubahan dalam gaya hidup.
Intervensi Keperawatan
1.
Penghilangan
Nyeri Dada :
·
Kolaborasi dokter
dan perawat
·
Vasodilator dan
obat anti koagulan
·
Pantau nyeri dada
·
Oksigen 2-4
ltr/mnt kanul
·
Kaji tanda
vital lebih sering selama merasakan nyeri
·
Istirahat fisik
ditempat tidur posisi fowler
·
EKG 12 lead
sesuai indikasi
·
Instruksikan
pasien untuk memberitahu staf tentang nyeri selanjutnya
2.
Memperbaiki
Fungsi Respirasi :
·
Kaji pernapasan
teratur dan teliti : takipnea, ortopnea.
·
Perhatikan
status volume cairan
·
Anjurkan pasien
bernapas dalam
·
Merubah posisi
tidur kekanan & kekiri bila serangan akut tidak terjadi
3.
Meningkatkan
Perfusi Jaringan adekuat
·
Periksa suhu
dan denyut nadi perifer
·
Monitor irama
jantung
·
Minimalkan
konsumsi oksigen jantung dengan lingkungan yang tenang
4.
Pengurangan
Kecemasan
·
Bina hubungan
saling percaya
·
Beri kesempatan
pasien berbagi rasa
·
Beri pasien
merasa diterima
·
Jelaskan
tentang lingkungan, semua prosedur dan peralatan yang dipakai pasien.
·
Libatkan
keluarga dalam perawatan pasien.
·
Kolaborasi
pemberian sedatif sesuai kebutuhan
·
Gunakan waktu
yang tepat dalam menggali perasaan pasien
BAB II
RESPIRATORY
Pleura Efusion
Definisi
Efusi pleural adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleural, proses
penyakit primer jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit
lain. Efusi dapat berupa cairan jernih, yang mungkin merupakan transudat,
eksudat, atau dapat berupa darah atau pus. Efusi pleural adalah pengumpulan
cairan dalam ruang pleura yang terletak diantara permukaan visceral dan
parietal, proses penyakit primer jarang terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit
sekunder terhadap penyakit lain. Secara normal, ruang pleural mengandung
sejumlah kecil cairan (5 sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas yang
memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi.
Etiologi
Kelainan pada pleura hampir selalu merupakan kelainan sekunder. Kelainan
primer pada pleura hanya ada dua macam yaitu infeksi kuman primer intrapleura
dan tumor primer pleura. Timbulnya efusi pleura dapat disebabkan oleh
kondisi-kondisi :
- Hambatan resorbsi cairan dari
rongga pleura, karena adanya bendungan seperti pada dekompensasi kordis,
penyakit ginjal, tumor mediatinum, sindroma meig (tumor ovarium) dan
sindroma vena kava superior.
- Peningkatan produksi cairan
berlebih, karena radang (tuberculosis, pneumonia, virus), bronkiektasis,
abses amuba subfrenik yang menembus ke rongga pleura, karena tumor dimana
masuk cairan berdarah dan karena trauma. Di Indonesia 80% karena
tuberculosis.
Secara
patologis, efusi pleura disebabkan oleh keadaan-keadaan:
- Meningkatnya tekanan hidrostatik
(misalnya akibat gagal jantung)
- Menurunnya tekanan osmotic koloid
plasma (misalnya hipoproteinemia)
- Meningkatnya permeabilitas kapiler
(misalnya infeksi bakteri)
- Berkurangnya absorbsi limfatik
Penyebab efusi
pleura dilihat dari jenis cairan yang dihasilkannya adalah:
- Transudat
Gagal jantung, sirosis hepatis dan ascites,
hipoproteinemia pada nefrotik sindrom, obstruksi vena cava superior, pasca
bedah abdomen, dialisis peritoneal, dan atelektasis akut.
2.
Eksudat
- Infeksi (pneumonia, TBC, virus,
jamur, parasit, dan abses)
- Neoplasma (Ca. paru-paru,
metastasis, limfoma, dan leukemia)
Kelebihan cairan rongga pleura dapat terkumpul pada
proses penyakit neoplastik, tromboembolik, kardiovaskuler, dan infeksi. Ini
disebabkan oleh sedikitnya satu dari empat mekanisme dasar :
a. Peningkatan tekanan kapiler subpleural atau limfatik
b. Penurunan tekanan osmotic koloid darah
c. Peningkatan tekanan negative intrapleural
d. Adanya inflamasi atau neoplastik pleura
Perbedaan
cairan transudat dan eksudat.
|
Indikator
|
Transudat
|
Eksudat
|
- Warna
2.
Bekuan
- Berat
Jenis
- Leukosit
- Eritrosit
- Hitung
jenis
- Protein
Total
- LDH
- Glukosa
10.
Fibrinogen
11.
Amilase
12.
Bakteri
|
- Kuning
pucat dan jernih
- (-)
- <1018
- <1000
/uL
- sedikit
- MN
(limfosit/mesotel)
- <50%
serum
- <60%
serum
- =plasma
10.
0,3-4%
11. (-)
12. (-)
|
- Jernih,
keruh, purulen, dan hemoragik
- (-)/(+)
- >1018
- Bervariasi,
>1000/uL
- Biasanya
banyak
- Terutama
PMN
- >50%
serum
- >60%
serum
- = / <
plasma
10. 4-6
% atau lebih
11.
>50% serum
12. (-)
/ (+)
|
Patofisiologi
Pada
umumnya, efusi terjadi karena penyakit pleura hampir mirip plasma (eksudat)
sedangkan yang timbul pada pleura normal merupakan ultrafiltrat plasma
(transudat). Efusi dalam hubungannya dengan pleuritis disebabkan oleh
peningkatan permeabilitas pleura parietalis sekunder (efek samping dari) peradangan
atau keterlibatan neoplasma. Contoh bagi efusi pleura dengan pleura normal
adalah payah jantung kongestif. Pasien dengan pleura yang awalnya normal pun
dapat mengalami efusi pleura ketika terjadi payah/gagal jantung kongestif.
Ketika jantung tidak dapat memompakan darahnya secara maksimal ke seluruh tubuh
terjadilah peningkatan tekanan hidrostatik pada kapiler yang selanjutnya
menyebabkan hipertensi kapiler sistemik. Cairan yang berada dalam pembuluh
darah pada area tersebut selanjutnya menjadi bocor dan masuk ke dalam pleura.
Peningkatan pembentukan cairan dari pleura parietalis karena hipertensi kapiler
sistemik dan penurunan reabsorbsi menyebabkan pengumpulan abnormal cairan
pleura.
Adanya hipoalbuminemia juga akan mengakibatkan terjadinya efusi pleura.
Peningkatan pembentukan cairan pleura dan berkurangnya reabsorbsi. Hal tersebut
berdasarkan adanya penurunan pada tekanan onkotik intravaskuler (tekanan
osmotic yang dilakukan oleh protein).
Luas efusi pleura yang mengancam volume paru-paru, sebagian akan
tergantung atas kekuatan relatif paru-paru dan dinding dada. Dalam batas
pernapasan normal, dinding dada cenderung rekoil ke luar sementara paru-paru
cenderung untuk rekoil ke dalam (paru-paru tidak dapat berkembang secara
maksimal melainkan cenderung untuk mengempis).
Manifestasi Klinis
Biasanya manifestasi klinisnya adalah yang disebabkan penyakit dasar.
Pneumonia akan menyebabkan demam, menggigil, dan nyeri dada pleuritis,
sementara efusi malignan dapat mengakibatkan dipsnea dan batuk. Ukuran efusi
akan menentukan keparahan gejala. Efusi pleura yang luas akan menyebabkan sesak
nafas. Area yang mengandung cairan atau menunjukkan bunyi napas minimal atau
tidak sama sekali menghasilkan bunyi datar, pekak saat diperkusi. Egofoni akan
terdengar di atas area efusi. Deviasi trakea menjauhi tempat yang sakit dapat
terjadi jika penumpukan cairan pleural yang signifikan. Bila terjadi efusi
pleural kecil sampai sedang, dipsnea mungkin saja tidak terdapat. Berikut tanda
dan gejala:
·
Adanya timbunan
cairan mengakibatkan perasaan sakit karena pergesekan, setelah cairan cukup
banyak rasa sakit hilang. Bila cairan banyak, penderita akan sesak napas.
·
Adanya
gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam, menggigil, dan nyeri dada
pleuritis (pneumonia), panas tinggi (kokus), subfebril (tuberkulosisi), banyak
keringat, batuk, banyak riak.
·
Deviasi trachea
menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukan cairan
pleural yang signifikan.
·
Pemeriksaan
fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berlainan, karena cairan akan
berpindah tempat. Bagian yang sakit akan kurang bergerak dalam pernapasan,
fremitus melemah (raba dan vocal), pada perkusi didapati daerah pekak, dalam
keadaan duduk permukaan cairan membentuk garis melengkung (garis Ellis
Damoiseu).
·
Didapati
segitiga Garland, yaitu daerah yang pada perkusi redup timpani dibagian atas
garis Ellis Domiseu. Segitiga Grocco-Rochfusz, yaitu daerah pekak karena cairan
mendorong mediastinum kesisi lain, pada auskultasi daerah ini didapati
vesikuler melemah dengan ronki.
·
Pada permulaan
dan akhir penyakit terdengar krepitasi pleura.
Keberadaan cairan dikuatkan dengan rontgen dada, ultrasound, pemeriksaan
fisik, dan torakosentesis. Cairan pleural dianalisis dengan kultur bakteri,
pewarnaan Gram, basil tahan asam (untuk tuberkulosis), hitung sel darah merah
dan putih, pemeriksaan kimiawi (glukosa, amylase, laktat dehidrogenase,
protein), analisis sitologi untuk sel-sel malignan, dan pH. Biopsi pleura
mungkin juga dilakukan.
Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan penyebab dasar, untuk mencegah
penumpukan kembali cairan, dan untuk menghilangkan ketidaknyamanan serta
dipsnea. Pengobatan spesifik ditujukan pada penyebab dasar (misal gagal jantung
kongestif, pneumonia, seosis)
Torakosintesis dilakukan untuk membuang cairan, untuk mendapatkan specimen
guna keperluan analisis, dan untuk menghilangkan dipsnea. Namun bila penyebab
dasar adalah malignansi, efusi dapat terjadi kembali dalam beberapa hari atau
minggu. Torasentesis berulang menyebabkan nyeri, penipisan protein dan
elektrolit, dan kadang pneumotoraks. Dalam keadaan ini pasien mungkin diatasi
dengan pemasangan selang dada dengan drainase yang dihubungkan ke system
drainase water-seal atau pengisapan untuk mengevaluasi ruang pleura dan
pengembangan paru.
Agens yang secara kimiawi mengiritasi, seperti tetrasiklin, dimasukkan ke
dalam ruang pleura untuk mengobliterasi ruang pleural dan mencegah akumulasi
cairan lebih lanjut. Setelah agens dimasukkan, selang dada diklem dan pasien
dibantu untuk mengambil berbagai posisi untuk memastikan penyebaran agens
secara merata dan untuk memaksimalkan kontak agens dengan permukaan pleural.
Selang dilepaskan klemnya sesuai yang diresepkan, dan drainase dada biasanya
diteruskan beberapa hari lebih lama untuk mencegah reakumulasi cairan dan untuk
meningkatkan pembentukan adhesi antara pleural viseralis dan parietalis.
Modalitas penyakit lainnya untuk efusi pleura malignan termasuk radiasi
dinding dada, bedah pleurektomi, dan terapi diuretic. Jika cairan pleura
merupakan eksudat, posedur diagnostic yang lebih jauh dilakukan untuk menetukan
penyebabnya. Pengobatan untuk penyebab primer kemudian dilakukan.
Pemeriksaan Penunjang
- Foto Thorax
Permukaan cairan yang terdapat dalam rongga pleura akan
membentuk bayangan seperti kurva, dengan permukaan daerah lateral lebih tinggi
daripada bagian medial. Bila permukaannya horisontal dari lateral ke medial,
pasti terdapat udara dalam rongga tersebut yang dapat berasal dari luar atau
dari dalam paru-paru sendiri. Kadang-kadang sulit membedakan antara bayangan
cairan bebas dalam pleura dengan adhesi karena radang (pleuritis). Disini perlu
pemeriksaan foto dada dengan posisi lateral dekubitus.
2.
CT – SCAN
Pada kasus kanker paru Ct Scan bermanfaat untuk
mendeteksi adanya tumor paru juga sekaligus digunakan dalam penentuan staging
klinik yang meliputi:
- menentukan adanya tumor dan
ukurannya
- mendeteksi adanya invasi tumor ke
dinding thorax, bronkus, mediatinum dan pembuluh darah besar
- mendeteksi adanya efusi pleura
Disamping diagnosa kanker paru CT Scan juga dapat
digunakan untuk menuntun tindakan trans thoracal needle aspiration (TTNA),
evaluasi pengobatan, mendeteksi kekambuhan dan CT planing radiasi.
FORMAT PENGKAJIAN
Tanggal MRS : Rabu, 22 Mei 2013
Jam Masuk : 13.00 WIB
Tanggal
Pengkajian : 22 Mei
2013 No. RM : 00.09.45
Jam
Pengkajian
: 12.00 WIB Diagnosa
Masuk : efusi plera (D)
Ruang/ Kelas
: Aster 218 bed 5
IDENTITAS
Nama : Tn. B. S
Umur : 53 tahun/ 3 bulan/ 5 hari
Suku/
Bangsa : MINAHASA/ WNI
Agama
: Kr. Protestan
Alamat : Langowan
Pekerjaan : Petani
Keluhan Utama :
sesak napas
Riwayat
Penyakit Sekarang
Pasien rujukan dari RS Noogan(Langowan) dengan mula-mula sesak pada bulan April
2013. Sesak hilang timbul, di sertai nyeri dada terutama saat beraktifitas dan
terkadang juga pada malam hari sesak timbul kembali, ketika pasien sesak,
pasien mencoba tidur dengan posisi duduk. Sebelum sesak pasien mengeluh batuk
selama kurang lebih selama satu bulan. Batuk tanpa disertai dahak, dan
mengkonsumsi obat batuk namun tidak sembuh. Karena sesak bertambah hebat,
pasien ke UGD RS Noogan dan pada tanggal 22 Mei 2013 pasien di rujuk ke RSAM.
RIWAYAT
PENYAKIT DAHULU
Agustus 2010
pasien operasi hernia di RKZ (preoperasi melakukan rongent dan di katakana ada
sesuatu di paru-paru). Post operasi disuruh untuk control lagi bulan Oktober
(pasien melakukan foto dada dan CT-scan). Sebelumnya tidak ada batuk darah,
keringat dingin, DM, HT, asma, alergi.
RIWAYAT
PENYAKIT KELUARGA
Riwayat penyakit keturunan: keluarga mengaku tidak ada anggota keluarga
yang mengalami sakit seperti pasien. Keluarga mengatakan tidak ada riwayat
keganasan, batuk lama, batuk berdarah, keringat dingin, DM, HT, asma, alergi.
PERILAKU YANG
MEMPENGARUHI KESEHATAN
Pasien tidak
mengkonsumsi alcohol, tetapi pasien adalah perokok berat dimana dapat mengkonsumsi
satu bungkus dalam sehari dan hal itu sudah dilakukan lebih dari 10 tahun.
Dalam sehari pasien mampu manghabiskan rokok 1 bungkus bahkan lebih. Pekerjaan
pasien sebagai petani. Saat pengkajian pasien mengaku tidak mengerti bahwa pola
hidupnya dapat mengakibatkan kanker paru, hal tersebut merupakan kurangnya
sumber informasi bagi pasien.
OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK
Tanda Tanda
Vital
Kesadaran compos mentis.
Tanda-tanda vital:
Suhu:
37˚C Nadi:
96×/ menit.
RR:26x/menit
TD:140/90mmHg
Sistem
Pernafasan (B1)
Nafas pasien tersengal-sengal cepat, pendek, terasa lebih
sesak meningkat/ bertambah setelah beraktifitas dan terdapat nyeri. Tidak ada
pernafasan cuping hidung dan tidak ada retraksi otot bantu nafas. Gerak dada
kiri dan kanan simetris, terdapat suara nafas tambahan berupa ronki di bagian
dekstra apeks. Adanya secret dan batuk produktif tetapi batuk tidak efektif.
Irama nafas teratur terdapat dispnoe, pasien tidak menggunakan alat bantu
nafas, suara nafas vesikuler. Terdapat hasil torakosintesis yang dilakukan
pada pukul 11.30,dan ternyata masih terdapat cairan di kavum pleura sebanyak
500 cc.
Sistem
Kardiovaskuler (B2)
Pasien tidak mengalami nyeri dada, irama jantung regular.
Pasien tidak terpasang CVC sehingga CVP tidak terkaji. CRT normal kurang dari
tiga detik, dan akral merah, hangat dan kering.
Sistem Persyarafan (B3)
Pasien tidak merasa pusing, tidak terdapat gangguan
pendengaran, dan tidak mengalami gangguan penciuman. Istirahat pasien 8 jam/
hari. Dan pasien mengaku tidak mengalami gangguan tidur. Namun setelah bangun
tidur sering sesak nafas.
Sistem
Perkemihan (B4)
Menurut pasien, alat genetalia nya dalam kondisi bersih,
dan tidak mengalami keluhan kencing. Volume urin pasien normal, dan tidak
terpasang kateter.
Sistem
Pencernaan (B5)
Mulut pasien tampak bersih, lembab dan tidak ada
stomatitis, tidak bau mulut, gigi sempurna (tidak terdapat karies gigi), lidah
merah, kelainan tidak ada, pasien tidak mengalami gangguan menelan. Tidak
terdapat luka operasi, peristaltic 9x/ menit dengan suara peristaltic terdengar
lemah, BAB 1x sehari terakhir pada tanggal 22-10-2010 dengan konsistensi
lunak warna kecoklatan, dan bau khas, nafsu makan menurun.
Sistem
Muskoleskeletal (B6)
Pergerakan sendi pasien bebas, tidak mengalami fraktur.
Tidak mengalami kelainan tulang belakang, tidak menggunakan traksi gips spalk,
permukaaan kulit terlihat mengkilat, dan tekstur halus. Rambut putih hitam
bersih, tidak terdapat dekubitus. Pasien mengalami intoleransi aktifitas
dikarenakan jika terlalu banyak bergerak, akan timbul sesak napas.
Sistem
Endokrin
Leher pasien tidak terlihat membesar, saat pemeriksaan
Pasien tidak mengalami pembesaran kelenjar tiroid dan tidak mengalami
pembesaran kelenjar betah bening, Hiperglikemia (-), hipoglikemia (-).
PENGKAJIAN
PSIKOSOSIAL
Pasien tidak mengalami gangguan pada psikososial. Pasien dapat
berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya dan dapat kooperatif dengan tenaga
medis.
PERSONAL
HYGIENE DAN KEBIASAAN
Klien mengatakan mandi sehari 2x dan keramas 1-2 kali seminggu. Kuku
terlihat bersih dan pendek, memakai arloji di tangan sebelah kanan pasien untuk
melihat waktu kapan dia harus menjalani pengobatan, membersihkan diri, jam
istirahat, dan makan. Semua nya terlihat bersih dan rapi, pakaian ganti sehari
2x, menggosok gigi 2x sehari, tidak lupa untuk membersihkan telinga serta
lubang hidung setiap hari.
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
- Foto Thorax
Hasil torakosintesis pada tanggal 20-10-2010 sebesar 500cc
Hasil torakosintesis 22-10-2010 pukul11.30 sebesar 500cc
Foto Thorak 20-10-2010: efusi pleura dekstra
3.
CT – SCAN
CT Scan 20-10-2010: Ca paru dextra
Diagnosa
Keperawatan
1. Ketidakefektifan
pola pernafasan berhubungan dengan menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap
penumpukan cairan dalam rongga pleura.
Tujuan : Pasien mampu mempertahankan fungsi paru secara normal
Kriteria
hasil : Irama, frekuensi dan kedalaman pernafasan dalam batas normal, pada
pemeriksaan sinar X dada tidak ditemukan adanya akumulasi cairan, bunyi nafas
terdengar jelas.
Rencana tindakan :
·
Identifikasi faktor penyebab.
Rasional:
Dengan mengidentifikasikan penyebab, kita dapat menentukan jenis effusi pleura
sehingga dapat mengambil tindakan yang tepat.
·
Kaji kualitas, frekuensi dan kedalaman pernafasan, laporkan setiap
perubahan yang terjadi.
Rasional:
Dengan mengkaji kualitas, frekuensi dan kedalaman pernafasan, kita dapat
mengetahui sejauh mana perubahan kondisi pasien.
·
Baringkan pasien dalam posisi yang nyaman, dalam posisi duduk, dengan
kepala tempat tidur ditinggikan 60 – 90 derajat.
Rasional:
Penurunan diafragma memperluas daerah dada sehingga ekspansi paru bisa
maksimal.
·
Observasi tanda-tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah, RR dan respon
pasien).
Rasional:
Peningkatan RR dan tachcardi merupakan indikasi adanya penurunan fungsi paru.
·
Lakukan auskultasi suara nafas tiap 2-4 jam.
Rasional:
Auskultasi dapat menentukan kelainan suara nafas pada bagian paru-paru.
·
Bantu dan ajarkan pasien untuk batuk dan nafas dalam yang efektif.
Rasional: Menekan
daerah yang nyeri ketika batuk atau nafas dalam. Penekanan otot-otot dada serta
abdomen membuat batuk lebih efektif.
·
Kolaborasi dengan tim medis lain untuk pemberian O2 dan
obat-obatan serta foto thorax.
Rasional:
Pemberian oksigen dapat menurunkan beban pernafasan dan mencegah terjadinya
sianosis akibat hiponia. Dengan foto thorax dapat dimonitor kemajuan dari
berkurangnya cairan dan kembalinya daya kembang paru.
2. Gangguan
pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan
peningkatan metabolisme tubuh, penurunan nafsu makan akibat sesak nafas.
Tujuan: Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria
hasil: Konsumsi lebih 40 % jumlah
makanan, berat badan normal dan hasil laboratorium dalam batas normal.
Rencana tindakan :
·
Beri motivasi tentang pentingnya nutrisi.
Rasional:
Kebiasaan makan seseorang dipengaruhi oleh kesukaannya, kebiasaannya, agama,
ekonomi dan pengetahuannya tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh.
·
Auskultasi suara bising usus.
Rasional:
Bising usus yang menurun atau meningkat menunjukkan adanya fungsi pencernaan.
·
Lakukan oral hygiene setiap hari.
Rasional: Bau
mulut yang kurang sedap dapat mengurangi nafsu makan.
·
Sajikan makanan semenarik mungkin.
Rasional: Penyajian
makanan yang menarik dapat meningkatkan nafsu makan.
·
Beri makanan dalam porsi kecil tapi sering.
Rasional: Makanan
dalam porsi kecil tidak membutuhkan energi, banyak selingan memudahkan reflek.
·
Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian di’it TKTP
Rasional: Di’it
TKTP sangat baik untuk kebutuhan metabolisme dan pembentukan antibody karena
diet TKTP menyediakan kalori dan semua
asam amino esensial.
·
Kolaborasi dengan dokter atau konsultasi untuk melakukan pemeriksaan
laboratorium alabumin dan pemberian vitamin dan suplemen nutrisi lainnya
(zevity, ensure, socal, putmocare) jika intake diet terus menurun lebih 30 %
dari kebutuhan.
Rasional:
Peningkatan intake protein, vitamin dan mineral dapat menambah asam lemak dalam
tubuh.
3. Cemas atau
ketakutan sehubungan dengan adanya ancaman kematian yang dibayangkan
(ketidakmampuan untuk bernafas).
Tujuan : Pasien mampu memahami dan menerima keadaannya
sehingga tidak terjadi kecemasan.
Kriteria
hasil: Pasien mampu bernafas secara
normal, pasien mampu beradaptasi dengan keadaannya. Respon non verbal klien
tampak lebih rileks dan santai, nafas teratur dengan frekuensi 16-24 kali
permenit, nadi 80-90 kali permenit.
Rencana
tindakan :
·
Berikan posisi yang menyenangkan bagi pasien. Biasanya dengan semi
fowler. Jelaskan mengenai penyakit dan diagnosanya.
Rasional:
pasien mampu menerima keadaan dan mengerti sehingga dapat diajak kerjasama
dalam perawatan.
·
Ajarkan teknik relaksasi
Rasional: Mengurangi ketegangan otot dan kecemasan
·
Bantu dalam menggala sumber koping yang ada.
Rasional:
Pemanfaatan sumber koping yang ada secara konstruktif sangat bermanfaat dalam
mengatasi stress.
·
Pertahankan hubungan saling percaya antara perawat dan pasien. Rasional :
Hubungan saling percaya membantu proses terapeutik
·
Kaji faktor yang menyebabkan timbulnya rasa cemas.
Rasional:
Tindakan yang tepat diperlukan dalam mengatasi masalah yang dihadapi klien dan
membangun kepercayaan dalam mengurangi kecemasan.
·
Bantu pasien mengenali dan mengakui rasa cemasnya.
Rasional:
Rasa cemas merupakan efek emosi sehingga apabila sudah teridentifikasi dengan
baik, perasaan yang mengganggu dapat diketahui.
4. Gangguan pola
tidur dan istirahat sehubungan dengan batuk yang menetap dan nyeri pleuritik.
Tujuan:
Tidak terjadi gangguan pola tidur dan kebutuhan istirahat terpenuhi.
Kriteria
hasil : Pasien tidak sesak nafas,
pasien dapat tidur dengan nyaman tanpa mengalami gangguan, pasien dapat
tertidur dengan mudah dalam waktu 30-40 menit dan pasien beristirahat atau
tidur dalam waktu 3-8 jam per hari.
5.
Ketidakmampuan melaksanakan aktivitas sehari-hari sehubungan dengan
keletihan (keadaan fisik yang lemah).
Tujuan: Pasien mampu melaksanakan
aktivitas seoptimal mungkin.
Kriteria hasil: Terpenuhinya
aktivitas secara optimal, pasien kelihatan segar dan bersemangat, personel
hygiene pasien cukup.
6. Kurang
pengetahuan mengenai kondisi, aturan pengobatan sehubungan dengan kurangnya
informasi.
Tujuan : Pasien dan keluarga tahu mengenai kondisi dan aturan pengobatan.
Kriteria hasil :
-
Pt dan keluarga menyatakan pemahaman penyebab masalah.
-
Pt dan keluarga mampu mengidentifikasi tanda dan gejala yang memerlukan
evaluasi medik.
-
Pt dan keluarga mengikuti program pengobatan dan menunjukkan perubahan
pola hidup yang perlu untuk mencegah terulangnya masalah.
BAB
III
GASTRO
INTESTINAL
Typhoid
Abdominalis
Definisi
Typhoid adalah penyakit
infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella thypi dan
salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan
paratyphoid abdominalis.
Typus abdominalis adalah penyakit
infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam lebih
dari 7 hari, gangguan pada saluran cerna, gangguan kesadaran, dan lebih banyak
menyerang pada anak usia 12 – 13 tahun ( 70% - 80% ), pada usia 30 - 40 tahun (
10%-20% ) dan diatas usia pada anak 12-13 tahun sebanyak ( 5%-10% ).
Etiologi
Salmonella thyposa, basil gram
negative yang bergerak dengan bulu getar, tidak bersepora mempunyai
sekurang-kurangnya tiga macam antigen yaitu:
• antigen O (somatic,
terdiri darizat komplekliopolisakarida)
• antigen H(flagella)
• antigen V1 dan protein membrane hialin.
b) Salmonella parathypi
A
c) salmonella parathypi B
d) Salmonella parathypi C
e) Faces dan Urin dari penderita thypus (Rahmad Juwono, 1996).
Patofisiologi
Penularan
salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5
F yaitu Food (makanan), Fingers (jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly
(lalat), dan melalui Feses.
Feses dan muntah pada penderita
typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain. Kuman
tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap
dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut
kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang
tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut.
Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh
asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai
jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu
masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. Sel-sel
retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan
menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung
empedu.
Semula disangka demam dan gejala toksemia
pada typhoid disebabkan oleh endotoksemia. Tetapi berdasarkan penelitian
eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan merupakan penyebab utama
demam pada typhoid. Endotoksemia berperan pada patogenesis typhoid, karena
membantu proses inflamasi lokal pada usus halus. Demam disebabkan karena
salmonella thypi dan endotoksinnya merangsang sintetis dan pelepasan zat
pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang.
Manifestasi Klinis
Masa tunas 7-14 (rata-rata 3 – 30)
hari, selama inkubasi ditemukan gejala prodromal (gejala awal tumbuhnya penyakit/gejala
yang tidak khas):
•
Perasaan tidak enak badan
• Lesu
• Nyeri kepala
• Pusing
• Diare
• Anoreksia
• Batuk
• Nyeri otot
Menyusul gejala klinis yang lain
Demam
Demam berlangsung 3 minggu
• Minggu I : Demam remiten, biasanya menurun pada pagi
hari dan meningkat pada sore dan malam hari
• Minggu II : Demam terus
• Minggu III : Demam mulai turun secara berangsur – angsur
Gangguan
Pada Saluran Pencernaan
•
Lidah kotor yaitu ditutupi selaput kecoklatan kotor, ujung dan tepi kemerahan,
jarang disertai tremor
• Hati dan limpa membesar yang nyeri pada perabaan
• Terdapat konstipasi, diare
Gangguan Kesadaran
• Kesadaran yaitu apatis – somnolen
• Gejala lain “ROSEOLA” (bintik-bintik kemerahan karena
emboli hasil dalam kapiler kulit)
Pemeriksaan
Diagnostik
Pemeriksaan
laboratorium
• Pemeriksaan darah tepi : dapat
ditemukan leukopenia,limfositosis relatif, aneosinofilia, trombositopenia,
anemia
• Biakan empedu : basil salmonella typhii ditemukan dalam darah
penderita biasanya dalam minggu pertama sakit
• Pemeriksaan WIDAL - Bila terjadi aglutinasi
- 1/200³Diperlukan
titer anti bodi terhadap antigeno yang bernilai 4 kali antara masa akut dan
konvalesene mengarah³atau
peningkatan kepada demam typhoid.
Penatalaksanaan
Terdiri dari 3 bagian, yaitu :
Perawatan
• Tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas demam
atau kurang lebih selama 14 hari.
2 jam untuk
mencegah dekubitus.±•
Posisi tubuh harus diubah setiap
• Mobilisasi sesuai kondisi.
Diet
• Makanan diberikan secara bertahap sesuai dengan keadaan
penyakitnya (mula-mula air-lunak-makanan biasa)
• Makanan mengandung cukup cairan, TKTP.
• Makanan harus menagndung cukup cairan, kalori, dan
tinggi protein, tidak boleh mengandung banyak serat, tidak merangsang maupun
menimbulkan banyak gas.
Obat
• Antimikroba
Kloramfenikol
Tiamfenikol
Co-trimoksazol
(Kombinasi Trimetoprim dan Sulkametoksazol)
• Obat Symptomatik
Antipiretik
Kartikosteroid,
diberikan pada pasien yang toksik.
Supportif : vitamin-vitamin.
Penenang :
diberikan pada pasien dengan gejala neuroprikiatri.
Komplikasi
Komplikasi
dapat dibagi dalam :
·
Komplikasi
intestinal
Perdarahan usus
Perforasi usus
Ileus paralitik
·
Komplikasi
ekstra intestinal.
Kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi perifer (renjatan
sepsis) miokarditis, trombosis, dan tromboflebitie.
Darah : anemia hemolitik, tromboritopenia, sindrom uremia
hemolitik
Paru : pneumoni, empiema, pleuritis.
Hepar dan kandung empedu : hipertitis dan kolesistitis
Ginjal : glomerulonefritis, pielonefritis, dan
perinefritis.
Tulang : oeteomielitis, periostitis, epondilitis, dan
arthritis.
Neuropsikiatrik : delirium, meningiemus, meningitie,
polineuritie, perifer, sindrom Guillan-Barre, psikosis dan sindrom katatonia.
Pada anak-anak dengan demam paratifoid, komplikasi lebih
jarang terjadi. Komplikasi sering terjadi pada keadaan tokremia berat dan
kelemahan umum, terutama bila perawatan pasien kurang sempurna.
Pencegahan
1. Usaha terhadap lingkungan hidup:
a. Penyediaan air minum yang memenuhi
b. Pembuangan kotoran manusia (BAK dan
BAB) yang hygiene
c. Pemberantasan lalat.
d. Pengawasan terhadap rumah-rumah dan
penjual makanan.
2. Usaha terhadap manusia.
a. Imunisasi
b. Pendidikan kesehatan pada masyarakat:
hygiene sanitasi personal hygiene.
FORMAT PENGKAJIAN
Tanggal MRS : Senin 20 Mei
2013 Jam Masuk : 09.00 WIB
Tanggal
Pengkajian : 20 Mei
2013 No. RM : 01.56.78
Jam
Pengkajian :
11.00 WIB Diagnosa
Masuk : Thypoid Fever
Ruang/ Kelas
: Jasmine 216
IDENTITAS
Nama : An. N. R
Umur : 17 Thn
Suku/
Bangsa : MINAHASA/ WNI
Agama
: Kr. Protestan
Alamat
: Manado, Dendengan Dalam
Pekerjaan
: Siswa
Keluhan Utama : Demam
Riwayat
Penyakit Sekarang
Pada tanggal 15 Mei 2013 pasien
mengalami panas dan nyeri daerah perut.
Keluarga menganggap pasien hanyan menderita demam biasa, keluarga hanya
merawat pasien di rumah dan mengkonsumsi obat warung untuk menurunkan demam,
namun demam pasien tidak turun dan nyeri perut pasien tidak hilang-hilang, pada
tanggal 20 Mei 2013 keadaan pasien semakin lemas dan pasien semakin pucat,
keluargapun membawa pasien ke RSA untuk di periksa, setelah di periksa tepatnya
di UGD pasien di anjurkan untuk di rawat inap karena pasien perluh perawatan.
RIWAYAT
PENYAKIT DAHULU
Menurut pasien
dan keluarga, pasien tidak ada riwayat penyakit terdahulu
RIWAYAT
PENYAKIT KELUARGA
Riwayat penyakit keturunan: keluarga mengaku tidak ada anggota keluarga
yang mengalami sakit seperti pasien sekarang ini ataupun jenis penyakit lainnya
pada anggota keluarga lainnya.
PERILAKU YANG
MEMPENGARUHI KESEHATAN
Pasien tidak
mengkonsumsi alcohol ataupun merokok.
OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK
Tanda Tanda
Vital
Kesadaran compos mentis.
Tanda-tanda vital:
Suhu: 38.5
˚C Nadi: 90×/
menit. RR:
20x/menit
TD:110/80mmHg
Sistem
Pernafasan (B1)
Tidak ada gangguan pada system pernapasan pasien,
pernapasan pasien normal.
Sistem
Kardiovaskuler (B2)
Pasien tidak mengalami nyeri dada, irama jantung regular.
Pasien telihat pucat.
Sistem Persyarafan (B3)
Pasien tidak merasa pusing, tidak terdapat gangguan
pendengaran, dan tidak mengalami gangguan penciuman. Istirahat pasien 6-7 jam/
hari. Dan pasien mengaku tidak mengalami gangguan tidur.
Sistem
Perkemihan (B4)
Menurut pasien, alat genetalia nya dalam kondisi bersih,
dan tidak mengalami keluhan kencing. Volume urin pasien normal, dan tidak
terpasang kateter.
Sistem
Pencernaan (B5)
Pasien mengalami diare
Sistem Muskoleskeletal
(B6)
Pergerakan sendi pasien bebas, tidak mengalami fraktur.
Tidak mengalami kelainan tulang belakang, tidak menggunakan traksi gips spalk,
permukaaan kulit terlihat mengkilat, dan tekstur halus. Rambut putih hitam
bersih, tidak terdapat dekubitus.
Sistem
Endokrin
Leher pasien tidak terlihat membesar, saat pemeriksaan
Pasien tidak mengalami pembesaran kelenjar tiroid dan tidak mengalami
pembesaran kelenjar betah bening, Hiperglikemia (-), hipoglikemia (-).
PENGKAJIAN
PSIKOSOSIAL
Pasien tidak mengalami gangguan pada psikososial. Pasien dapat
berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya dan dapat kooperatif dengan tenaga
medis.
PERSONAL
HYGIENE DAN KEBIASAAN
Klien mengatakan mandi sehari 2x dan keramas 1-2 kali seminggu. Kuku
terlihat bersih dan pendek, memakai arloji di tangan sebelah kanan pasien untuk
melihat waktu kapan dia harus menjalani pengobatan, membersihkan diri, jam
istirahat, dan makan. Semua nya terlihat bersih dan rapi, pakaian ganti sehari
2x, menggosok gigi 2x sehari, tidak lupa untuk membersihkan telinga serta
lubang hidung setiap hari.
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
|
No
|
Pemeriksaan
|
Hasil
(22-12-2012)
|
Nilai Normal
|
|
1
|
HGB
|
13,3 g/dl
|
♀ 11,0 – 16,0
g/dl ♂12,0 – 16,00 g/dl
|
|
2
|
WBC
|
5,1
|
4,8 – 10,8
|
|
3
|
RBC
|
4,71
|
3,5 – 5,5
|
|
4
|
PLT
|
183
|
150 – 450
|
|
5
|
WIDAL O
WIDAL H
|
Positif 1/600
Positif 1/600
|
Negatif 1/600
Negatif 1/600
|
TERAPI DAN PENATALAKSANAAN
a.
Kloramfenikol 4 x 500 mg sehari / IV.
b.
Tiamfenikol 4 x 500 mg sehari per oral.
c.
Kotrimoklazol 2 x 2 tablet sehari oral (1 tablet =
sulfamelok sazol 400 mg + trimetoprim 80 mg) atau dosis yang sama IV,
dilarutkan dalam 250 ml cairan infus).
d.
Amphisilin atau amoksilin 100 mg / kg BB sehari per oral
/ IV dibagi dalam 3 atau 4 dosis.
Diagnosa
keperawatan
1. Peningkatan
suhu tubuh berhubungan dengan infeksi Salmonella Typhii
2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang
dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia
3. Gangguan
keseimbangan cairan (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan pengeluaran
cairan yang berlebihan (diare/muntah).
4. Intoleransi
aktivitas berhubungan dengan kelemahan/bedrest.
Intervensi dan
Implementasi
1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan
dengan infeksi salmonella typhi
Tujuan : suhu tubuh normal/terkontrol.
Kriteria hasil : Pasien melaporkan peningkatan suhu tubuh
Mencari pertolongan untuk pencegahan peningkatan suhu
tubuh.
Turgor kulit membaik
Intervensi :
·
Berikan
penjelasan kepada klien dan keluarga tentang peningkatan suhu tubuh
R/ agar klien dan keluarga mengetahui sebab dari
peningkatan suhu dan membantu mengurangi kecemasan yang timbul.
·
Anjurkan klien
menggunakan pakaian tipis dan menyerap keringat
R/ untuk menjaga agar klien merasa nyaman, pakaian tipis
akan membantu mengurangi penguapan tubuh.
·
Batasi
pengunjung
R/ agar klien merasa tenang dan udara di dalam ruangan
tidak terasa panas
·
Observasi TTV
tiap 4 jam sekali
R/ tanda-tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui
keadaan umum pasien
·
2,5 liter / 24
jam± Anjurkan pasien untuk
banyak minum, minum
R/ peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh
meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak
·
Memberikan
kompres dingin
R/ untuk membantu menurunkan suhu tubuh
·
Kolaborasi
dengan dokter dalam pemberian tx antibiotik dan antipiretik
R/ antibiotik untuk mengurangi infeksi dan antipiretik
untuk menurangi panas.
2. Gangguan
pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia
Tujuan : Pasien mampu mempertahankan
kebutuhan nutrisi adekuat
Kriteria hasil :
- Nafsu makan meningkat
- Pasien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan porsi yang
diberikan
Intervensi
·
Jelaskan pada
klien dan keluarga tentang manfaat makanan/nutrisi.
R/ untuk meningkatkan pengetahuan klien tentang nutrisi
sehingga motivasi untuk makan meningkat.
·
Timbang berat
badan klien setiap 2 hari.
R/ untuk mengetahui peningkatan dan penurunan berat badan.
·
Beri nutrisi
dengan diet lembek, tidak mengandung banyak serat, tidak merangsang, maupun
menimbulkan banyak gas dan dihidangkan saat masih hangat.
R/ untuk meningkatkan asupan makanan karena mudah ditelan.
·
Beri makanan
dalam porsi kecil dan frekuensi sering.
R/ untuk menghindari mual dan muntah.
·
Kolaborasi
dengan dokter untuk pemberian antasida dan nutrisi parenteral.
R/ antasida mengurangi rasa mual dan muntah.
·
Nutrisi
parenteral dibutuhkan terutama jika kebutuhan nutrisi per oral sangat kurang.
3. Intoleransi
aktivitas berhubungan dengan kelemahan/bed rest
Tujuan : pasien bisa melakukan aktivitas
kehidupan sehari-hari (AKS) optimal.
Kriteria hasil :
-
Kebutuhan
personal terpenuhi,
-
Dapat melakukan
gerakkan yang bermanfaat bagi tubuh.
-
Memenuhi
AKS dengan teknik penghematan energi.
Intervensi :
·
Beri motivasi
pada pasien dan kelurga untuk melakukan mobilisasi sebatas kemampuan (missal.
Miring kanan, miring kiri).
R/ agar pasien dan keluarga mengetahui pentingnya mobilisasi
bagi pasien yang bedrest.
·
Kaji kemampuan
pasien dalam beraktivitas (makan, minum).
R/ untuk mengetahui sejauh mana kelemahan yang terjadi.
·
Dekatkan
keperluan pasien dalam jangkauannya.
R/ untuk mempermudah pasien dalam melakukan aktivitas.
·
Berikan
latihan mobilisasi secara bertahap sesudah demam hilang.
R/ untuk menghindari kekakuan sendi dan mencegah adanya
dekubitus.
4. Gangguan
keseimbangan cairan (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan cairan yang
berlebihan (diare/muntah)
Tujuan
: tidak terjadi gangguan keseimbangan cairan
Kriteria hasil :
-
Turgor kulit
meningkat
-
Wajah
tidak nampak pucat
Intervensi
:
·
Berikan
penjelasan tentang pentingnya kebutuhan cairan pada pasien dan keluarga.
R/ untuk mempermudah pemberian cairan (minum) pada pasien.
·
Observasi pemasukan dan pengeluaran cairan.
R/ untuk mengetahui keseimbangan cairan.
·
2,5 liter / 24
jam.±
Anjurkan pasien untuk banyak minum
R/ untuk pemenuhan kebutuhan cairan.
·
Observasi
kelancaran tetesan infuse.
R/ untuk pemenuhan kebutuhan cairan dan mencegah adanya
odem.
·
Kolaborasi
dengan dokter untuk terapi cairan (oral / parenteral).
R/ untuk pemenuhan kebutuhan cairan yang tidak terpenuhi
(secara parenteral).
REFERENSI
Baughman C Diane. (2000).
Keperawatan medical bedah,
Jakrta: EGC.
Djojobudibroto, darmanto. (2009).
RESPIROLOGI.
Jakarta: EGC.
Doenges E Mailyn. (1999). Rencana
Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian
perawatan pasien. Ed3. Jakarta, EGC.
Hidayat AA,
(2006), Pengantar Ilmu Keperawatan
Anak, (Edisi 1). Jakarta: Salemba Medika.
Hidayat AA, (2006), Pengantar Ilmu Keperawatan Anak, (Edisi 2). Jakarta: Salemba
Medika.
Lynda
Juall. (2000). Diagnosa Keperawatan, EGC, Jakarta.
Mansjoer A, dkk. (2001). Kapita
Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga. Jakarta: Media Aesculapius FKUI.
Nettina, S.M. (2010). Lippincott
Manual of Nursing Practice, edisi 9. Lippincott William & Wilkins.
Ngastiyah, (2005). Perawatan Anak Sakit. Edisi 2.
Jakarta: EGC.
Nursalam dkk, (2005). Asuhan
Keperawatan Bayi dan Anak. Jakarta: Salemba Medika.
Pearce C, (2004). Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis.
Jakarta: PT. Gramedia.
Price, Sylvia A., &
Wilson, Lorraine M. (2005). Patofisiologi ; Konsep Klinis Proses–Proses
Penyakit Vol. 1, Edisi 6, Jakarta: EGC.
Saifuddin, (2006). Anatomi Fisilogi Untuk Mahasiswa Keperawatan,
Edisi 3. Jakarta: EGC.
Silbernagl, Stefan &
Lang, Florian. (2007). Teks & Atlas Berwarna Patofisiologi.
Jakarta: EGC
Smeltzer, S.C. & Bare, B.
G. (2000). Brunner and Suddarth’s Textbook of Medical Surgical Nursing.
8th Edition. Alih bahasa : Waluyo, A. Jakarta : EGC
Smeltzer, Suzanne C. &
Bare, Brenda G. (2005). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner
& Suddarth Vol. 2, Edisi 8, Jakarta: EGC.
Soepaman, S. W. (2001). Ilmu Penyakit dalam. Jilid II Edisi 3.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Somantri, Irman. (2008).Asuhan
Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba
Medika.
Suyono S, dkk. (2001). Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ketiga. Jakarta : Blai Penerbit FKUI
Widjaja S. (2009).
EKG Praktis. Tangerang: Binarupa
Aksara