Sabtu, 13 Juli 2013

MANFAAT CABE UNTUK NYERI


Cara Kerja Capsaicin untuk Menghilangkan Nyeri
Prinsipnya cara kerja terapi panas pada rematik adalah untuk meningkatkan aliran darah ke daerah sendi yang terserang. Dengan demikian, proses radang dapat di kurangi sehingga fungsi sendi dapat maksimal (Bangun, 2010).
Efektivitas farmakologis yang paling menonjol dari capsicanoid adalah sebagai pereda nyeri (analgesik). Kemampuan senyawa aktif ini untuk meredakan munculnya rasa nyeri sangat bisa diandalkan. Uji laboratorium menunjukkan untuk membendung aktivitas NSF (Nerve Growth Regulator) yang memproduksi substansi-P, substansi-P atau neuropeptide-P adalah produk yang dihasilkan oleh sumber sakit dan dihantarkan oleh sensor neuron ke otak. Neuropeptide bertugas untuk pembawa pesan penting ke otak, sehingga seseorang dapat merasakan nyeri di bagian tubuhnya.
Pelepasan substansi-P akan terjadi pada saat terjadi peradangan (inflamasi) khususnya pada inflamasi neurogenik atau peradangan otot. Capsaicin yang mekanisme kerjanya dalam meredakan rasa nyeri adalah melalui interaksi senyawa capsaicin dengan neuron yang meransang saraf nyeri kemudian masuk ke dalam membran sel yang memberi sinyal ke otak dan terjadi reaksi eksoterm yang menyerap pada rasa nyeri, kemudian capsaisin akan mengeluarkan ion kalium pada titik nyeri sehingga menurunkan rasa nyeri tersebut (Lingga, 2012).

TUGAS FINAL


BAB I
CARDIOVASCULAR

MI (Myocardial Infarction)
Definisi/Pengertian
Myocardial Infarction/miokardiak infark (MI) merujuk pada suatu proses dinamik dimana jantung mengalami penurunan oksigen yang berat dan lama karena aliran darah koroner yang tidak mencukupi; sebagai akibatnya nekrosis atau “kematian” jaringan otot jantung terjadi. MI mungkin terjadi secara tiba-tiba atau berangsur, dan berkembangnya kejadian sampai komplet memerlukan waktu kira-kira 3 sampai 6 jam. MI adalah salah satu manifestasi acute corronary syndrome (ACS).
Patofisiologi dan etiologi
Thrombosis koroner akut (partial atau total)—berhubungan dengan 90% MI. CAD (Coronary Artery Disease) berat (> 70% penyempitan arteri) menjadikan presipitasi pembentukan trombus. Langkah pertama pada pembentukan thrombus melibatkan pecahnya plaque, kemudian platelet melekat pada area yang rusak. Selanjutnya, activasi platelet yang terekspos menyebabkan ekspresi reseptor glycoprotein IIb/IIIa yang mengikat fibrinogen. Akhirnya, agregasi platelet dan perlengketan terjadi, memperluas thrombus dan menyumbat artery. Faktor etiologi yang lain termasuk spasme artery koroner, emboli arteri koroner, penyakit infeksi meyebabkan peradangan arteri, anemia.
Perbedaan derajat kerusakan yang terjadi pada otot jantung:
  1. Zone necrosis—kematian otot jantung yang disebabkan oleh tidak adanya oksigen yang meluas dan komplet; kerusakan irreversible.
  2. Zone injury—area otot jantung yang mengelilingi area yang nekrosis; meradang dan cidera, tapi masih hidup jika oksigen yang cukup dapat diberikan.
  3. Zone ischemia—area otot janutng yang mengelilingi area cidera, yang tampak iskemih dan hidup; tidak membahayakan kecuali perluasan infark terjadi.
Klasifikasi MI
  1. STEMI—elevasi segmen ST terlihat pada ECG. Area nekrosis mungkin atau mungkin tidak terjadi pada seluruh otot jantung
  2. NSTEMI—elevasi segemn ST tidak terlihat pada ECG. Depresi ST juga inversi gelombang, T, dan gejala klinik (nyeri dada).
Area nekrosis mungkin atau mungkin tidak terjadi pada seluruh otot jantung. Area otot jantung yang menjadi terkena tergantung pada arteri yang menjadi penyumbat. ,
  1. Ventrikel kiri merupakan lokasi yang umum dan berbahaya pada MI karena itu merupakan bilik jantung pemompa utama.
  2. Infark ventrikel kanan umumnya terjadi dengan kerusakan di dinding inferior dan atau posterior dinding ventrikel kiri.
Manifestasi klinis
Nyeri dada:
  1. Berat, diffuse, nyeri substernal yang terus-menerus; mungkin digambarkan seperti ditekan, diremas-remas.
  2. Tidak mereda dengan istirahat atau terapy vasodilator sublingual, tapi memerlukan opioid.
  3. Mungkin menjalar ke lengan (biasanya kiri), bahu, leher, punggung dan atau dagu.
  4. Berlangsung lebih dari 15 menit.
  5. Mungkin menimbulkan kecemasan dan ketakutan, mengakibatkan peningkatan dalam heart rate, tekanan darah dan RR.
  6. Beberapa pasien tidak menunjukkan keluhan nyeri.
Manifestasi klinis
1.      Diaphoresis, kulit lembab dan dingin, wajah pucat.
2.      Hypertensi atau hypotensi
3.      Bradycardi atau tachycardi
4.      Denyut ventrikel prematur
5.      Palpitasi, kecemasan hebat, dyspnea
6.      Disorientasi, gelisah
7.      Pingsan, kelemahan
8.      Nausea, muntah, cegukan
9.      Gejala atypical : distress epigastric atau abdomen, nyeri tumpul atau sensasi kesemutan, nafas pendek, fatigue yang ekstrem.
Evaluasi Diagnostik
  1. Perubahan ECG
Umumnya terjadi dalam 2 sampai 12 jam, tapi mungkin 72 sampai 96 jam. Jaringan yang necrotic, cidera, dan ischemic mengubah depolarisasi dan repolarisasi ventrikel.
    • Depresi segmen ST dan inversi gelombang T mengindikasikan pola ischemia.
    • Elevasi ST mengindikasikan pola cidera.
    • Gelombang Q mengindikasikan jaringan nekrosis dan permanen. Gelombang Q patologis lebih dari 3 mm dalamnya atau lebih besar dari 1/3 tinggi gelombang R.
Lokasi infark (dinding anterior, anteroseptal) ditentukan oleh leads dimana perubahan iskemik terlihat.
  1. Gelombang Q abnormal
  2. Penilaian jantung Nonspecific markers
Semua sel otot termasuk otot jantung terdiri dari enzym protein atau nilai biokimia yang bocor jika sel-selnya rusak.
    • Peningkatan dalam penilaian jantung mengkonfirmasi kematian sel jantung. Namun penilaian nonspesifik dapat meningkat dari kerusakan organ lain, sehingga tidak membantu secara rutin dalam diagnosis MI.
    • Penilaian ini termasuk lactate dehydrogenase, aspartate aminotransferase, dan myoglobin.
  1. Penilaian jantung spesifik
Troponin—protein sel otot kontraktil dan mempunyai 3 sub unit : troponin C, troponin I, dan troponin T. Troponin I dan T adalah spesifik jantung. Peningkatan yang berlebihan dari rentang normal dalam 24 jam pertama setelah kejadian koroner akut dipertimbangkan sebagai iskemia myokardium. Troponin mungkin juga digunakan dalam hubungannya dengan atau menggantikan CK-MB sebagai standar diagnosis MI. CK—penilaian nonspesifik, tapi lebih spesifik jika terpecah dalam sub unitnya, yaitu CK-MB yang merupakan isoenzym CK yang ditemukan dalam jantung.
Manajemen
Therapy bertujuan untuk mengembalikan iskemia untuk memelihara fungsi otot jantung, menurunkan ukuran infark dan mencegah kematian. Terapy modalitas innovatif memberikan perbaikan dini aliran darah koroner. Penggunaan age farmakologis memperbaiki suplai oksigen, menurunkan dan mencegah dysrythmia, dan menghambat perkembangan CAD. Perfusi segera diharapkan.
Terapy farmakology
Terapy farmakology untuk MI standar, yaitu MONA—acronym dari terapy standar yang dipakai untuk mengatasi MI:
  • M (Morphine)—diberikan I.V. digunakan untuk mengatasi nyeri. Katekolamin Endogenous dilepaskan selama nyeri menyebabkan peningkatan workload jantung, yang mengakibatkan peningkatan dalam tuntutan oksigen. Efek analgetik morfin menurunkan nyeri, menurunkan kecemasan, dan memperbaiki CO dengan menurunkan preload dan afterload.
  • O (Oxygen)—diberikan melalui nasal kanula atau face mask. Meningkatkan oksigenasi ke otot jantung yang iskemik.
  • N (Nitrate)—diberikan sublingual, spray, I.V. Terapy vasodilator dengan menurunkan pengembalian darah ke jantung dan menurunkan tuntutan oksigen.
  • A (Aspirin)—dosis segera melalui oral direkomendasikan untuk menghentikan agregasi platelet.
Obat-obatan yang lain:
  • Agent Thrombolytic seperti activator plasma jaringan (Activase), streptokinase (Streptase), dan reteplase (Retavase),Memelihara kembali aliran darah dalam pembuluh darah koroner dengan melarutkan thrombus, diberikan I.V. atau I.C.
  • Anti-arrhythmia, seperti amiodarone, menurunkan iritabilitas ventrikel yang terjadi setelah MI. diberikan I.V. melalui bolus, kemudian infus selama 24 jam.
Percutaneous Coronary Interventions
  • Percutaneous coronary interventions (PCIs), termasuk percutaneous transluminal coronary angioplasty, coronary stenting, dan atherectomy
Komplikasi
  1. Dysrhythmia
  2. Kematian jantung mendadak karena aritmia ventrikel.
  3. Infark yang meluas.
  4. Gagal jantung (dengan 20% sampai 35% kerusakan ventrikel kiri)
  5. Reinfarksi
  6. Ischemic cardiomyopathy
  7. Ruptur jantung
  8. Thromboemboli
  9. Aneurisma Ventrikel
  10. Tamponade jantung
  11. Pericarditis (2 sampai 3 hari setelah MI)
  12. Dissection arteri koroner selama angioplasty
  13. Maslah Psychiatric —depressi, perubahan kepribadian.
Pengkajian Keperawatan
  1. Kumpulkan informasi berkaitan dengan nyeri dada:
    • Intensitas—Gambarkan nyeri dengan kata-kata pasien sendiri dan bandingkan dengan pengalaman nyeri sebelumnya.
    • Serangan dan durasi—waktu yeri terjadi juga waktu nyeri mereda atau berkurang.
    • Lokasi dan radiasi—tunjukkan titik dimana nyeri berada dan area lain yang mungkin menjalar.
  2. Faktor precipitasi yang memperburuk—jelaskan aktivitas yang dilakukan sebelum serangan nyeri, tindakan untuk mengurangi nyeri, obat-obatan yang diminum.
  3. Tanyakan pasien tentang gejala lain yang dialami berhubungan dengan nyeri.
  4. Observasi pasien terhadap diaphoresis, wajah pucat, perilaku melindungi diri, postur tubuh yang kaku, kelemahan yang ekstrem dan konfusi.
  5. Evaluasi status cognitif, perilaku dan emosi.
  6. Tanyakan pasien tentang status kesehatan sebelumnya dengan menekankan pada obat-obatan yang dipakai saat ini, alergy (opiate, analgesics, iodine, kerang), trauma saat ini atau pembedahan, penggunaan alkohol.
  7. Kumpulkan informasi tentang ada atau tidaknya faktor risiko jantung.
  8. Identifikasi sistem dukungan sosial pasien dan potensial pemberi perawatan.
  9. Identifikasi reaksi lain terhadap situasi krisis.
FORMAT PENGKAJIAN
Tanggal MRS              : Kamis, 25  April 2013                   Jam Masuk          : 13.00 WIB
Tanggal Pengkajian     : 25 April 2013                                 No. RM              : 11.09.68
Jam Pengkajian           : 17.00 WIB                                      
Diagnosa Masuk         : AMI (acute Myocardial Infarction)
Ruang/ Kelas               : Jasmine 208
IDENTITAS
Nama                           : Tn. M.A
Umur                           : 60 tahun
Suku/ Bangsa              : MINAHASA/ WNI
Agama                         : Kr. Protestan
Alamat                        : Airmadidi
Pekerjaan                     : PNS (Pegawai Negri)
Keluhan Utama           : Nyeri dada

Riwayat Penyakit Sekarang
            Pasien sudah merasakan nyeri dada sebelah kiri sejak 4 bulan yang lalu dan nyerinya ilang timbul, pasien katakana nyeri hilang di saat pasien istirahat, pada tanggal 25 April 2013 pasien merasakan sakit dada tidak seperti biasanya dan di ikuti dengan sesak nafas, kemudian keluarga mengantar pasien ke RSAM tepatnya di UGD.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
            Menurut pasien dan keluarga bahwa pasien tidak ada riwayat penyakit terdahulu, dan Sebelumnya tidak ada batuk darah, keringat dingin, DM, HT, asma, alergi.
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Menurut keterangan dari pasien dan keluarga, dalam keluarga pasien tepatnya ayah dari pasien mengalami gangguan pada jantung, tapi keluarga tidak tahu kalau secara spesifik kalau jenis penyakitnya sama persis dengan pasien saat ini.
PERILAKU YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN
Pasien merupakan perokok aktif dan sesekali minum minuman beralkohol. Dalam sehari pasien bias menghabiskan rokok sampai 2 bungkus. Pasien sudah mengerti tentang kebiasaannya ini bias mempengaruhi kesehatannya.
OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK
Tanda Tanda Vital
Kesadaran compos mentis.
Tanda-tanda vital:
Suhu: 37˚C            Nadi: 96×/ menit.        RR:27x/menit              TD:150/90mmHg
Sistem Pernafasan (B1)
Nafas pasien tersengal-sengal cepat, pendek, Tidak ada pernafasan cuping hidung dan tidak ada retraksi otot bantu nafas. Gerak dada kiri dan kanan simetris, pasien menggunakan alat bantu nafas.
Sistem Kardiovaskuler (B2)
Pasien mengalami nyeri dada, irama jantung iregular, dan akral dingin.
Sistem Persyarafan (B3)
Pasien tidak merasa pusing, tidak terdapat gangguan pendengaran, dan tidak mengalami gangguan penciuman.
Sistem Perkemihan (B4)
Menurut pasien, alat genetalia nya dalam kondisi bersih, dan tidak mengalami keluhan kencing, dan tidak terpasang kateter.
Sistem Pencernaan (B5)
Mulut pasien tampak bersih, lembab dan tidak ada stomatitis, tidak bau mulut, gigi sempurna (tidak terdapat karies gigi), lidah merah, kelainan tidak ada, pasien tidak mengalami gangguan menelan, peristaltic 9x/ menit dengan suara peristaltic terdengar lemah, BAB  1x sehari dengan konsistensi lunak warna kecoklatan, dan bau khas, nafsu makan menurun.
Sistem Muskoleskeletal (B6)
Pergerakan sendi pasien bebas, tidak mengalami fraktur. Tidak mengalami kelainan tulang belakang, permukaaan kulit terlihat mengkilat, dan tekstur halus. Rambut putih hitam bersih, tidak terdapat dekubitus. Pasien mengalami intoleransi aktifitas dikarenakan jika terlalu banyak bergerak, akan timbul sesak napas.
Sistem Endokrin
Leher pasien tidak terlihat membesar, saat pemeriksaan Pasien tidak mengalami pembesaran kelenjar tiroid dan tidak mengalami pembesaran kelenjar betah bening, Hiperglikemia (-), hipoglikemia (-).
PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL
Pasien tidak mengalami gangguan pada psikososial. Pasien dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya dan dapat kooperatif dengan tenaga medis.
PERSONAL HYGIENE DAN KEBIASAAN
Klien mengatakan mandi sehari 2x dan keramas 2 hari sekali. Kuku terlihat bersih dan pendek, membersihkan diri, jam istirahat, dan makan. Semua nya terlihat bersih dan rapi, pakaian ganti sehari 2x, menggosok gigi 2x sehari, tidak lupa untuk membersihkan telinga serta lubang hidung setiap hari.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.      Elektrokardiografi : perubahan gelombang T dan ST elevasi

Diagnosa Keperawatan
  1. Nyeri akut berhubungan dengan ketidakseimbangan tuntutan dan suplai oksigen.
  2. Cemas berhubungan dengan nyeri dada, takut kematian, lingkungan yang mengancam.
  3. Penurunan CO berhubungan dengan gangguan kontraktilitas.
  4. Intolerasi aktivitas berhubungan dengan oksigenasi yang tidak cukup untuk melakukan aktivitas sehari-hari, efek kondisi bed rest (tirah baring).
  5. Risiko cidera (perdarahan) berhubungan dengan disolusi pelindung pembekuan.
  6. Perfusi jaringan (otot jantung) tidak efektif berhubungan dengan restenosis koroner, meluasnya infark.
  7. Koping tidak efektif berhubungan dengan ancaman harga diri, kerusakan pola istirahat-tidur, berkurangnya sistem pendukung dan kehilangan kontrol, perubahan dalam gaya hidup.
Intervensi Keperawatan
1.      Penghilangan Nyeri Dada :
·         Kolaborasi dokter dan perawat
·         Vasodilator dan obat anti koagulan
·         Pantau  nyeri dada
·         Oksigen 2-4 ltr/mnt kanul
·         Kaji tanda vital lebih sering selama merasakan nyeri
·         Istirahat fisik ditempat tidur posisi fowler
·         EKG 12 lead sesuai indikasi
·         Instruksikan pasien untuk memberitahu staf tentang nyeri selanjutnya

2.      Memperbaiki Fungsi Respirasi :
·         Kaji pernapasan teratur dan teliti : takipnea, ortopnea.
·         Perhatikan status volume cairan 
·         Anjurkan pasien bernapas dalam
·         Merubah posisi tidur kekanan & kekiri bila serangan akut tidak terjadi

3.      Meningkatkan Perfusi Jaringan adekuat
·         Periksa suhu dan denyut nadi perifer
·         Monitor irama jantung
·         Minimalkan konsumsi oksigen jantung dengan lingkungan yang tenang

4.      Pengurangan Kecemasan
·         Bina hubungan saling percaya
·         Beri kesempatan pasien berbagi rasa
·         Beri pasien merasa diterima
·         Jelaskan tentang lingkungan, semua prosedur dan peralatan yang dipakai pasien.
·         Libatkan keluarga dalam perawatan pasien.
·         Kolaborasi pemberian sedatif sesuai kebutuhan
·         Gunakan waktu yang tepat dalam menggali perasaan pasien














BAB II
RESPIRATORY

Pleura Efusion
Definisi
Efusi pleural adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleural, proses penyakit primer jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. Efusi dapat berupa cairan jernih, yang mungkin merupakan transudat, eksudat, atau dapat berupa darah atau pus. Efusi pleural adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak diantara permukaan visceral dan parietal, proses penyakit primer jarang terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. Secara normal, ruang pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5 sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi.
Etiologi
Kelainan pada pleura hampir selalu merupakan kelainan sekunder. Kelainan primer pada pleura hanya ada dua macam yaitu infeksi kuman primer intrapleura dan tumor primer pleura. Timbulnya efusi pleura dapat disebabkan oleh kondisi-kondisi :
  1. Hambatan resorbsi cairan dari rongga pleura, karena adanya bendungan seperti pada dekompensasi kordis, penyakit ginjal, tumor mediatinum, sindroma meig (tumor ovarium) dan sindroma vena kava superior.
  2. Peningkatan produksi cairan berlebih, karena radang (tuberculosis, pneumonia, virus), bronkiektasis, abses amuba subfrenik yang menembus ke rongga pleura, karena tumor dimana masuk cairan berdarah dan karena trauma. Di Indonesia 80% karena tuberculosis.
Secara patologis, efusi pleura disebabkan oleh keadaan-keadaan:
  1. Meningkatnya tekanan hidrostatik (misalnya akibat gagal jantung)
  2. Menurunnya tekanan osmotic koloid plasma (misalnya hipoproteinemia)
  3. Meningkatnya permeabilitas kapiler (misalnya infeksi bakteri)
  4. Berkurangnya absorbsi limfatik
Penyebab efusi pleura dilihat dari jenis cairan yang dihasilkannya adalah:
  1. Transudat
Gagal jantung, sirosis hepatis dan ascites, hipoproteinemia pada nefrotik sindrom, obstruksi vena cava superior, pasca bedah abdomen, dialisis peritoneal, dan atelektasis akut.
2.      Eksudat
    1. Infeksi (pneumonia, TBC, virus, jamur, parasit, dan abses)
    2. Neoplasma (Ca. paru-paru, metastasis, limfoma, dan leukemia)
Kelebihan cairan rongga pleura dapat terkumpul pada proses penyakit neoplastik, tromboembolik, kardiovaskuler, dan infeksi. Ini disebabkan oleh sedikitnya satu dari empat mekanisme dasar :
a. Peningkatan tekanan kapiler subpleural atau limfatik
b. Penurunan tekanan osmotic koloid darah
c. Peningkatan tekanan negative intrapleural
d. Adanya inflamasi atau neoplastik pleura
Perbedaan cairan transudat dan eksudat.
Indikator
Transudat
Eksudat
  1. Warna
2.      Bekuan

  1. Berat Jenis
  2. Leukosit
  3. Eritrosit
  4. Hitung jenis
  5. Protein Total
  6. LDH
  7. Glukosa
10.  Fibrinogen
11.  Amilase
12.  Bakteri
  1. Kuning pucat dan jernih
  2. (-)

  1. <1018
  2. <1000 /uL
  3. sedikit
  4. MN (limfosit/mesotel)
  5. <50% serum
  6. <60% serum
  7. =plasma
10.  0,3-4%
11.  (-)
12.  (-)
  1. Jernih, keruh, purulen, dan hemoragik
  2. (-)/(+)
  3. >1018
  4. Bervariasi, >1000/uL
  5. Biasanya banyak
  6. Terutama PMN
  7. >50% serum
  8. >60% serum
  9. = / < plasma
10.  4-6 % atau lebih
11.  >50% serum
12.  (-) / (+)



Patofisiologi
            Pada umumnya, efusi terjadi karena penyakit pleura hampir mirip plasma (eksudat) sedangkan yang timbul pada pleura normal merupakan ultrafiltrat plasma (transudat). Efusi dalam hubungannya dengan pleuritis disebabkan oleh peningkatan permeabilitas pleura parietalis sekunder (efek samping dari) peradangan atau keterlibatan neoplasma. Contoh bagi efusi pleura dengan pleura normal adalah payah jantung kongestif. Pasien dengan pleura yang awalnya normal pun dapat mengalami efusi pleura ketika terjadi payah/gagal jantung kongestif. Ketika jantung tidak dapat memompakan darahnya secara maksimal ke seluruh tubuh terjadilah peningkatan tekanan hidrostatik pada kapiler yang selanjutnya menyebabkan hipertensi kapiler sistemik. Cairan yang berada dalam pembuluh darah pada area tersebut selanjutnya menjadi bocor dan masuk ke dalam pleura. Peningkatan pembentukan cairan dari pleura parietalis karena hipertensi kapiler sistemik dan penurunan reabsorbsi menyebabkan pengumpulan abnormal cairan pleura.
Adanya hipoalbuminemia juga akan mengakibatkan terjadinya efusi pleura. Peningkatan pembentukan cairan pleura dan berkurangnya reabsorbsi. Hal tersebut berdasarkan adanya penurunan pada tekanan onkotik intravaskuler (tekanan osmotic yang dilakukan oleh protein).
Luas efusi pleura yang mengancam volume paru-paru, sebagian akan tergantung atas kekuatan relatif paru-paru dan dinding dada. Dalam batas pernapasan normal, dinding dada cenderung rekoil ke luar sementara paru-paru cenderung untuk rekoil ke dalam (paru-paru tidak dapat berkembang secara maksimal melainkan cenderung untuk mengempis).
 Manifestasi Klinis
Biasanya manifestasi klinisnya adalah yang disebabkan penyakit dasar. Pneumonia akan menyebabkan demam, menggigil, dan nyeri dada pleuritis, sementara efusi malignan dapat mengakibatkan dipsnea dan batuk. Ukuran efusi akan menentukan keparahan gejala. Efusi pleura yang luas akan menyebabkan sesak nafas. Area yang mengandung cairan atau menunjukkan bunyi napas minimal atau tidak sama sekali menghasilkan bunyi datar, pekak saat diperkusi. Egofoni akan terdengar di atas area efusi. Deviasi trakea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika penumpukan cairan pleural yang signifikan. Bila terjadi efusi pleural kecil sampai sedang, dipsnea mungkin saja tidak terdapat. Berikut tanda dan gejala:
·         Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena pergesekan, setelah cairan cukup banyak rasa sakit hilang. Bila cairan banyak, penderita akan sesak napas.
·         Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam, menggigil, dan nyeri dada pleuritis (pneumonia), panas tinggi (kokus), subfebril (tuberkulosisi), banyak keringat, batuk, banyak riak.
·         Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi  penumpukan cairan pleural yang signifikan.
·         Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berlainan, karena cairan akan berpindah tempat. Bagian yang sakit akan kurang bergerak dalam pernapasan, fremitus melemah (raba dan vocal), pada perkusi didapati daerah pekak, dalam keadaan duduk permukaan cairan membentuk garis melengkung (garis Ellis Damoiseu).
·         Didapati segitiga Garland, yaitu daerah yang pada perkusi redup timpani dibagian atas garis Ellis Domiseu. Segitiga Grocco-Rochfusz, yaitu daerah pekak karena cairan mendorong mediastinum kesisi lain, pada auskultasi daerah ini didapati vesikuler melemah dengan ronki.
·         Pada permulaan dan akhir penyakit terdengar krepitasi pleura.
Keberadaan cairan dikuatkan dengan rontgen dada, ultrasound, pemeriksaan fisik, dan torakosentesis. Cairan pleural dianalisis dengan kultur bakteri, pewarnaan Gram, basil tahan asam (untuk tuberkulosis), hitung sel darah merah dan putih, pemeriksaan kimiawi (glukosa, amylase, laktat dehidrogenase, protein), analisis sitologi untuk sel-sel malignan, dan pH. Biopsi pleura mungkin juga dilakukan.
Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan penyebab dasar, untuk mencegah penumpukan kembali cairan, dan untuk menghilangkan ketidaknyamanan serta dipsnea. Pengobatan spesifik ditujukan pada penyebab dasar (misal gagal jantung kongestif, pneumonia, seosis)
Torakosintesis dilakukan untuk membuang cairan, untuk mendapatkan specimen guna keperluan analisis, dan untuk menghilangkan dipsnea. Namun bila penyebab dasar adalah malignansi, efusi dapat terjadi kembali dalam beberapa hari atau minggu. Torasentesis berulang menyebabkan nyeri, penipisan protein dan elektrolit, dan kadang pneumotoraks. Dalam keadaan ini pasien mungkin diatasi dengan pemasangan selang dada dengan drainase yang dihubungkan ke system drainase water-seal atau pengisapan untuk mengevaluasi ruang pleura dan pengembangan paru.
Agens yang secara kimiawi mengiritasi, seperti tetrasiklin, dimasukkan ke dalam ruang pleura untuk mengobliterasi ruang pleural dan mencegah akumulasi cairan lebih lanjut. Setelah agens dimasukkan, selang dada diklem dan pasien dibantu untuk mengambil berbagai posisi untuk memastikan penyebaran agens secara merata dan untuk memaksimalkan kontak agens dengan permukaan pleural. Selang dilepaskan klemnya sesuai yang diresepkan, dan drainase dada biasanya diteruskan beberapa hari lebih lama untuk mencegah reakumulasi cairan dan untuk meningkatkan pembentukan adhesi antara pleural viseralis dan parietalis.
Modalitas penyakit lainnya untuk efusi pleura malignan termasuk radiasi dinding dada, bedah pleurektomi, dan terapi diuretic. Jika cairan pleura merupakan eksudat, posedur diagnostic yang lebih jauh dilakukan untuk menetukan penyebabnya. Pengobatan untuk penyebab primer kemudian dilakukan.
Pemeriksaan Penunjang
  1. Foto Thorax
Permukaan cairan yang terdapat dalam rongga pleura akan membentuk bayangan seperti kurva, dengan permukaan daerah lateral lebih tinggi daripada bagian medial. Bila permukaannya horisontal dari lateral ke medial, pasti terdapat udara dalam rongga tersebut yang dapat berasal dari luar atau dari dalam paru-paru sendiri. Kadang-kadang sulit membedakan antara bayangan cairan bebas dalam pleura dengan adhesi karena radang (pleuritis). Disini perlu pemeriksaan foto dada dengan posisi lateral dekubitus.
2.      CT – SCAN 
Pada kasus kanker paru Ct Scan bermanfaat untuk mendeteksi adanya tumor paru juga sekaligus digunakan dalam penentuan staging klinik yang meliputi:
  1. menentukan adanya tumor dan ukurannya
  2. mendeteksi adanya invasi tumor ke dinding thorax, bronkus, mediatinum dan pembuluh darah besar
  3. mendeteksi adanya efusi pleura
Disamping diagnosa kanker paru CT Scan juga dapat digunakan untuk menuntun tindakan trans thoracal needle aspiration (TTNA), evaluasi pengobatan, mendeteksi kekambuhan dan CT planing radiasi.


FORMAT PENGKAJIAN
Tanggal MRS              : Rabu, 22 Mei 2013                   Jam Masuk              : 13.00 WIB
Tanggal Pengkajian     : 22 Mei 2013                             No. RM                    : 00.09.45
Jam Pengkajian           : 12.00 WIB                               Diagnosa Masuk     : efusi plera (D)
Ruang/ Kelas               : Aster 218 bed 5
IDENTITAS
Nama               : Tn. B. S
Umur               : 53 tahun/ 3 bulan/ 5 hari
Suku/ Bangsa  : MINAHASA/ WNI
Agama             : Kr. Protestan
Alamat                        : Langowan
Pekerjaan         : Petani
Keluhan Utama :  sesak napas
Riwayat Penyakit Sekarang
            Pasien rujukan dari RS Noogan(Langowan) dengan mula-mula sesak pada bulan April 2013. Sesak hilang timbul, di sertai nyeri dada terutama saat beraktifitas dan terkadang juga pada malam hari sesak timbul kembali, ketika pasien sesak, pasien mencoba tidur dengan posisi duduk. Sebelum sesak pasien mengeluh batuk selama kurang lebih selama satu bulan. Batuk tanpa disertai dahak, dan mengkonsumsi obat batuk namun tidak sembuh. Karena sesak bertambah hebat, pasien ke UGD RS Noogan dan pada tanggal 22 Mei 2013 pasien di rujuk ke RSAM.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
            Agustus 2010 pasien operasi hernia di RKZ (preoperasi melakukan rongent dan di katakana ada sesuatu di paru-paru). Post operasi disuruh untuk control lagi bulan Oktober (pasien melakukan foto dada dan CT-scan). Sebelumnya tidak ada batuk darah, keringat dingin, DM, HT, asma, alergi.
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Riwayat penyakit keturunan: keluarga mengaku tidak ada anggota keluarga yang mengalami sakit seperti pasien. Keluarga mengatakan tidak ada riwayat keganasan, batuk lama, batuk berdarah, keringat dingin, DM, HT, asma, alergi.
PERILAKU YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN
            Pasien tidak mengkonsumsi alcohol, tetapi pasien adalah perokok berat dimana dapat mengkonsumsi satu bungkus dalam sehari dan hal itu sudah dilakukan lebih dari 10 tahun. Dalam sehari pasien mampu manghabiskan rokok 1 bungkus bahkan lebih. Pekerjaan pasien sebagai petani. Saat pengkajian pasien mengaku tidak mengerti bahwa pola hidupnya dapat mengakibatkan kanker paru, hal tersebut merupakan kurangnya sumber informasi bagi pasien.
OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK
Tanda Tanda Vital
Kesadaran compos mentis.
Tanda-tanda vital:
Suhu: 37˚C            Nadi: 96×/ menit.        RR:26x/menit              TD:140/90mmHg
Sistem Pernafasan (B1)
Nafas pasien tersengal-sengal cepat, pendek, terasa lebih sesak meningkat/ bertambah setelah beraktifitas dan terdapat nyeri. Tidak ada pernafasan cuping hidung dan tidak ada retraksi otot bantu nafas. Gerak dada kiri dan kanan simetris, terdapat suara nafas tambahan berupa ronki di bagian dekstra apeks. Adanya secret dan batuk produktif tetapi batuk tidak efektif. Irama nafas teratur terdapat dispnoe, pasien tidak menggunakan alat bantu nafas, suara nafas vesikuler. Terdapat hasil torakosintesis  yang dilakukan pada pukul 11.30,dan ternyata masih terdapat cairan di kavum pleura sebanyak 500 cc.
Sistem Kardiovaskuler (B2)
Pasien tidak mengalami nyeri dada, irama jantung regular. Pasien tidak terpasang CVC sehingga CVP tidak terkaji. CRT normal kurang dari tiga detik, dan akral merah, hangat dan kering.
Sistem Persyarafan (B3)
Pasien tidak merasa pusing, tidak terdapat gangguan pendengaran, dan tidak mengalami gangguan penciuman. Istirahat pasien 8 jam/ hari. Dan pasien mengaku tidak mengalami gangguan tidur. Namun setelah bangun tidur sering sesak nafas.
Sistem Perkemihan (B4)
Menurut pasien, alat genetalia nya dalam kondisi bersih, dan tidak mengalami keluhan kencing. Volume urin pasien normal, dan tidak terpasang kateter.
Sistem Pencernaan (B5)
Mulut pasien tampak bersih, lembab dan tidak ada stomatitis, tidak bau mulut, gigi sempurna (tidak terdapat karies gigi), lidah merah, kelainan tidak ada, pasien tidak mengalami gangguan menelan. Tidak terdapat luka operasi, peristaltic 9x/ menit dengan suara peristaltic terdengar lemah, BAB  1x sehari terakhir pada tanggal 22-10-2010 dengan konsistensi lunak warna kecoklatan, dan bau khas, nafsu makan menurun.
Sistem Muskoleskeletal (B6)
Pergerakan sendi pasien bebas, tidak mengalami fraktur. Tidak mengalami kelainan tulang belakang, tidak menggunakan traksi gips spalk, permukaaan kulit terlihat mengkilat, dan tekstur halus. Rambut putih hitam bersih, tidak terdapat dekubitus. Pasien mengalami intoleransi aktifitas dikarenakan jika terlalu banyak bergerak, akan timbul sesak napas.
Sistem Endokrin
Leher pasien tidak terlihat membesar, saat pemeriksaan Pasien tidak mengalami pembesaran kelenjar tiroid dan tidak mengalami pembesaran kelenjar betah bening, Hiperglikemia (-), hipoglikemia (-).

PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL
Pasien tidak mengalami gangguan pada psikososial. Pasien dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya dan dapat kooperatif dengan tenaga medis.
PERSONAL HYGIENE DAN KEBIASAAN
Klien mengatakan mandi sehari 2x dan keramas 1-2 kali seminggu. Kuku terlihat bersih dan pendek, memakai arloji di tangan sebelah kanan pasien untuk melihat waktu kapan dia harus menjalani pengobatan, membersihkan diri, jam istirahat, dan makan. Semua nya terlihat bersih dan rapi, pakaian ganti sehari 2x, menggosok gigi 2x sehari, tidak lupa untuk membersihkan telinga serta lubang hidung setiap hari.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
  1. Foto Thorax
Hasil torakosintesis pada tanggal 20-10-2010 sebesar 500cc
Hasil torakosintesis 22-10-2010 pukul11.30 sebesar 500cc
Foto Thorak 20-10-2010: efusi pleura dekstra
3.      CT – SCAN 
CT Scan 20-10-2010: Ca paru dextra
 Diagnosa Keperawatan
1.      Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap penumpukan cairan dalam rongga pleura.
Tujuan : Pasien mampu mempertahankan fungsi paru secara normal
Kriteria hasil : Irama, frekuensi dan kedalaman pernafasan dalam batas normal, pada pemeriksaan sinar X dada tidak ditemukan adanya akumulasi cairan, bunyi nafas terdengar jelas.
Rencana tindakan :
·         Identifikasi faktor penyebab.
Rasional: Dengan mengidentifikasikan penyebab, kita dapat menentukan jenis effusi pleura sehingga dapat mengambil tindakan yang tepat.
·         Kaji kualitas, frekuensi dan kedalaman pernafasan, laporkan setiap perubahan yang terjadi.
Rasional: Dengan mengkaji kualitas, frekuensi dan kedalaman pernafasan, kita dapat mengetahui sejauh mana perubahan kondisi pasien.
·         Baringkan pasien dalam posisi yang nyaman, dalam posisi duduk, dengan kepala tempat tidur ditinggikan 60 – 90 derajat.
Rasional: Penurunan diafragma memperluas daerah dada sehingga ekspansi paru bisa maksimal.

·         Observasi tanda-tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah, RR dan respon pasien).
Rasional: Peningkatan RR dan tachcardi merupakan indikasi adanya penurunan fungsi paru.
·         Lakukan auskultasi suara nafas tiap 2-4 jam.
Rasional: Auskultasi dapat menentukan kelainan suara nafas pada bagian paru-paru.
·         Bantu dan ajarkan pasien untuk batuk dan nafas dalam yang efektif.
Rasional: Menekan daerah yang nyeri ketika batuk atau nafas dalam. Penekanan otot-otot dada serta abdomen membuat batuk lebih efektif.
·         Kolaborasi dengan tim medis lain untuk pemberian O2 dan obat-obatan serta foto thorax.
Rasional: Pemberian oksigen dapat menurunkan beban pernafasan dan mencegah terjadinya sianosis akibat hiponia. Dengan foto thorax dapat dimonitor kemajuan dari berkurangnya cairan dan kembalinya daya kembang paru.

2.      Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh, penurunan nafsu makan akibat sesak nafas.
Tujuan: Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil: Konsumsi lebih  40 % jumlah makanan, berat badan normal dan hasil laboratorium dalam batas normal.
Rencana tindakan :
·         Beri motivasi tentang pentingnya nutrisi.
Rasional: Kebiasaan makan seseorang dipengaruhi oleh kesukaannya, kebiasaannya, agama, ekonomi dan pengetahuannya tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh.
·         Auskultasi suara bising usus.
Rasional: Bising usus yang menurun atau meningkat menunjukkan adanya  fungsi pencernaan.
·         Lakukan oral hygiene setiap hari.
Rasional: Bau mulut yang kurang sedap dapat mengurangi nafsu makan.
·         Sajikan makanan semenarik mungkin.
Rasional: Penyajian makanan yang menarik dapat meningkatkan nafsu makan.
·         Beri makanan dalam porsi kecil tapi sering.
Rasional: Makanan dalam porsi kecil tidak membutuhkan energi, banyak selingan memudahkan reflek.
·         Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian di’it TKTP
Rasional: Di’it TKTP sangat baik untuk kebutuhan metabolisme dan pembentukan antibody karena diet TKTP menyediakan  kalori dan semua asam amino esensial.
·         Kolaborasi dengan dokter atau konsultasi untuk melakukan pemeriksaan laboratorium alabumin dan pemberian vitamin dan suplemen nutrisi lainnya (zevity, ensure, socal, putmocare) jika intake diet terus menurun lebih 30 % dari kebutuhan.
Rasional: Peningkatan intake protein, vitamin dan mineral dapat menambah asam lemak dalam tubuh.

3.      Cemas atau ketakutan sehubungan dengan adanya ancaman kematian yang dibayangkan (ketidakmampuan untuk bernafas).
Tujuan : Pasien mampu memahami dan menerima keadaannya sehingga tidak terjadi kecemasan.
Kriteria hasil:   Pasien mampu bernafas secara normal, pasien mampu beradaptasi dengan keadaannya. Respon non verbal klien tampak lebih rileks dan santai, nafas teratur dengan frekuensi 16-24 kali permenit, nadi 80-90 kali permenit.

Rencana tindakan :
·         Berikan posisi yang menyenangkan bagi pasien. Biasanya dengan semi fowler. Jelaskan mengenai penyakit dan diagnosanya.
Rasional: pasien mampu menerima keadaan dan mengerti sehingga dapat diajak kerjasama dalam perawatan.
·         Ajarkan teknik relaksasi
                        Rasional: Mengurangi ketegangan otot dan kecemasan
·         Bantu dalam menggala sumber koping yang ada.
Rasional: Pemanfaatan sumber koping yang ada secara konstruktif sangat bermanfaat dalam mengatasi stress.
·         Pertahankan hubungan saling percaya antara perawat dan pasien. Rasional : Hubungan saling percaya membantu proses terapeutik
·         Kaji faktor yang menyebabkan timbulnya rasa cemas.
Rasional: Tindakan yang tepat diperlukan dalam mengatasi masalah yang dihadapi klien dan membangun kepercayaan dalam mengurangi kecemasan.
·         Bantu pasien mengenali dan mengakui rasa cemasnya.
Rasional: Rasa cemas merupakan efek emosi sehingga apabila sudah teridentifikasi dengan baik, perasaan yang mengganggu dapat diketahui.
4.      Gangguan pola tidur dan istirahat sehubungan dengan batuk yang menetap dan nyeri pleuritik.
                                     Tujuan: Tidak terjadi gangguan pola tidur dan kebutuhan istirahat terpenuhi.
                                     Kriteria hasil    : Pasien tidak sesak nafas, pasien dapat tidur dengan nyaman tanpa mengalami gangguan, pasien dapat tertidur dengan mudah dalam waktu 30-40 menit dan pasien beristirahat atau tidur dalam waktu 3-8 jam per hari.
5.      Ketidakmampuan melaksanakan aktivitas sehari-hari sehubungan dengan keletihan (keadaan fisik yang lemah).
                                     Tujuan: Pasien mampu melaksanakan aktivitas seoptimal mungkin.
                         Kriteria hasil: Terpenuhinya aktivitas secara optimal, pasien kelihatan segar dan bersemangat, personel hygiene pasien cukup.
6.      Kurang pengetahuan mengenai kondisi, aturan pengobatan sehubungan dengan kurangnya informasi.
Tujuan : Pasien dan keluarga tahu mengenai kondisi dan aturan pengobatan.
Kriteria hasil :
-          Pt dan keluarga menyatakan pemahaman penyebab masalah.
-          Pt dan keluarga mampu mengidentifikasi tanda dan gejala yang memerlukan evaluasi medik.
-          Pt dan keluarga mengikuti program pengobatan dan menunjukkan perubahan pola hidup yang perlu untuk mencegah terulangnya masalah.

BAB III
GASTRO INTESTINAL

Typhoid Abdominalis

Definisi
            Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis.
            Typus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran cerna, gangguan kesadaran, dan lebih banyak menyerang pada anak usia 12 – 13 tahun ( 70% - 80% ), pada usia 30 - 40 tahun ( 10%-20% ) dan diatas usia pada anak 12-13 tahun sebanyak ( 5%-10% ).

 Etiologi
            Salmonella thyposa, basil gram negative yang bergerak dengan bulu getar, tidak bersepora mempunyai sekurang-kurangnya tiga macam antigen yaitu:
• antigen O (somatic, terdiri darizat komplekliopolisakarida)
• antigen H(flagella)
• antigen V1 dan protein membrane hialin.
b) Salmonella parathypi A
c) salmonella parathypi B
d) Salmonella parathypi C
e) Faces dan Urin dari penderita thypus (Rahmad Juwono, 1996).

Patofisiologi
            Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5 F yaitu Food (makanan), Fingers (jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly (lalat), dan melalui Feses.
            Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu.
            Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan oleh endotoksemia. Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid. Endotoksemia berperan pada patogenesis typhoid, karena membantu proses inflamasi lokal pada usus halus. Demam disebabkan karena salmonella thypi dan endotoksinnya merangsang sintetis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang.

Manifestasi Klinis
            Masa tunas 7-14 (rata-rata 3 – 30) hari, selama inkubasi ditemukan gejala prodromal (gejala awal tumbuhnya penyakit/gejala yang tidak khas):
• Perasaan tidak enak badan
• Lesu
• Nyeri kepala
• Pusing
• Diare
• Anoreksia
• Batuk
• Nyeri otot
Menyusul gejala klinis yang lain
Demam
Demam berlangsung 3 minggu
• Minggu I : Demam remiten, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat pada sore dan malam hari
• Minggu II : Demam terus
• Minggu III : Demam mulai turun secara berangsur – angsur
 Gangguan Pada Saluran Pencernaan
• Lidah kotor yaitu ditutupi selaput kecoklatan kotor, ujung dan tepi kemerahan, jarang disertai tremor
• Hati dan limpa membesar yang nyeri pada perabaan
• Terdapat konstipasi, diare

Gangguan Kesadaran

• Kesadaran yaitu apatis – somnolen
• Gejala lain “ROSEOLA” (bintik-bintik kemerahan karena emboli hasil dalam kapiler kulit)


Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan laboratorium
• Pemeriksaan darah tepi : dapat ditemukan leukopenia,limfositosis relatif, aneosinofilia, trombositopenia, anemia
• Biakan empedu : basil salmonella typhii ditemukan dalam darah penderita biasanya dalam minggu pertama sakit
• Pemeriksaan WIDAL - Bila terjadi aglutinasi
-  1/200
³Diperlukan titer anti bodi terhadap antigeno yang bernilai 4 kali antara masa akut dan konvalesene mengarah³atau peningkatan  kepada demam typhoid.

Penatalaksanaan

Terdiri dari 3 bagian, yaitu :
Perawatan
• Tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas demam atau kurang lebih selama 14 hari.
 2 jam untuk mencegah dekubitus.
±• Posisi tubuh harus diubah setiap
• Mobilisasi sesuai kondisi.

Diet
• Makanan diberikan secara bertahap sesuai dengan keadaan penyakitnya (mula-mula air-lunak-makanan biasa)
• Makanan mengandung cukup cairan, TKTP.
• Makanan harus menagndung cukup cairan, kalori, dan tinggi protein, tidak boleh mengandung banyak serat, tidak merangsang maupun menimbulkan banyak gas.

Obat
• Antimikroba
 Kloramfenikol
 Tiamfenikol
 Co-trimoksazol (Kombinasi Trimetoprim dan Sulkametoksazol)
• Obat Symptomatik
 Antipiretik
 Kartikosteroid, diberikan pada pasien yang toksik.
 Supportif : vitamin-vitamin.
 Penenang : diberikan pada pasien dengan gejala neuroprikiatri.

Komplikasi

Komplikasi dapat dibagi dalam :
·         Komplikasi intestinal
Perdarahan usus
Perforasi usus
Ileus paralitik

·         Komplikasi ekstra intestinal.
Kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi perifer (renjatan sepsis) miokarditis, trombosis, dan tromboflebitie.
Darah : anemia hemolitik, tromboritopenia, sindrom uremia hemolitik
Paru : pneumoni, empiema, pleuritis.
Hepar dan kandung empedu : hipertitis dan kolesistitis
Ginjal : glomerulonefritis, pielonefritis, dan perinefritis.
Tulang : oeteomielitis, periostitis, epondilitis, dan arthritis.
Neuropsikiatrik : delirium, meningiemus, meningitie, polineuritie, perifer, sindrom Guillan-Barre, psikosis dan sindrom katatonia.
Pada anak-anak dengan demam paratifoid, komplikasi lebih jarang terjadi. Komplikasi sering terjadi pada keadaan tokremia berat dan kelemahan umum, terutama bila perawatan pasien kurang sempurna.

Pencegahan

1. Usaha terhadap lingkungan hidup:
        a. Penyediaan air minum yang memenuhi
        b. Pembuangan kotoran manusia (BAK dan BAB) yang hygiene
        c. Pemberantasan lalat.
        d. Pengawasan terhadap rumah-rumah dan penjual makanan.
2. Usaha terhadap manusia.
        a. Imunisasi
        b. Pendidikan kesehatan pada masyarakat: hygiene sanitasi personal hygiene.

FORMAT PENGKAJIAN
Tanggal MRS              : Senin 20 Mei 2013                  Jam Masuk                : 09.00 WIB
Tanggal Pengkajian     : 20 Mei 2013                             No. RM                    : 01.56.78
Jam Pengkajian           : 11.00 WIB                                Diagnosa Masuk     : Thypoid Fever
Ruang/ Kelas               : Jasmine 216
IDENTITAS
Nama                           : An. N. R
Umur                           : 17 Thn
Suku/ Bangsa              : MINAHASA/ WNI
Agama                         : Kr. Protestan
Alamat                        : Manado, Dendengan Dalam
Pekerjaan                     : Siswa
Keluhan Utama           : Demam

Riwayat Penyakit Sekarang
            Pada tanggal 15 Mei 2013 pasien mengalami panas dan nyeri daerah perut.  Keluarga menganggap pasien hanyan menderita demam biasa, keluarga hanya merawat pasien di rumah dan mengkonsumsi obat warung untuk menurunkan demam, namun demam pasien tidak turun dan nyeri perut pasien tidak hilang-hilang, pada tanggal 20 Mei 2013 keadaan pasien semakin lemas dan pasien semakin pucat, keluargapun membawa pasien ke RSA untuk di periksa, setelah di periksa tepatnya di UGD pasien di anjurkan untuk di rawat inap karena pasien perluh perawatan.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
            Menurut pasien dan keluarga, pasien tidak ada riwayat penyakit terdahulu
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Riwayat penyakit keturunan: keluarga mengaku tidak ada anggota keluarga yang mengalami sakit seperti pasien sekarang ini ataupun jenis penyakit lainnya pada anggota keluarga lainnya.
PERILAKU YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN
           Pasien tidak mengkonsumsi alcohol ataupun merokok.
OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK
Tanda Tanda Vital
Kesadaran compos mentis.
Tanda-tanda vital:
Suhu: 38.5 ˚C            Nadi: 90×/ menit.        RR: 20x/menit              TD:110/80mmHg
Sistem Pernafasan (B1)
Tidak ada gangguan pada system pernapasan pasien, pernapasan pasien normal.
Sistem Kardiovaskuler (B2)
Pasien tidak mengalami nyeri dada, irama jantung regular. Pasien telihat pucat.
Sistem Persyarafan (B3)
Pasien tidak merasa pusing, tidak terdapat gangguan pendengaran, dan tidak mengalami gangguan penciuman. Istirahat pasien 6-7 jam/ hari. Dan pasien mengaku tidak mengalami gangguan tidur.
Sistem Perkemihan (B4)
Menurut pasien, alat genetalia nya dalam kondisi bersih, dan tidak mengalami keluhan kencing. Volume urin pasien normal, dan tidak terpasang kateter.


Sistem Pencernaan (B5)
Pasien mengalami diare
Sistem Muskoleskeletal (B6)
Pergerakan sendi pasien bebas, tidak mengalami fraktur. Tidak mengalami kelainan tulang belakang, tidak menggunakan traksi gips spalk, permukaaan kulit terlihat mengkilat, dan tekstur halus. Rambut putih hitam bersih, tidak terdapat dekubitus.
Sistem Endokrin
Leher pasien tidak terlihat membesar, saat pemeriksaan Pasien tidak mengalami pembesaran kelenjar tiroid dan tidak mengalami pembesaran kelenjar betah bening, Hiperglikemia (-), hipoglikemia (-).

PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL
Pasien tidak mengalami gangguan pada psikososial. Pasien dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya dan dapat kooperatif dengan tenaga medis.
PERSONAL HYGIENE DAN KEBIASAAN
Klien mengatakan mandi sehari 2x dan keramas 1-2 kali seminggu. Kuku terlihat bersih dan pendek, memakai arloji di tangan sebelah kanan pasien untuk melihat waktu kapan dia harus menjalani pengobatan, membersihkan diri, jam istirahat, dan makan. Semua nya terlihat bersih dan rapi, pakaian ganti sehari 2x, menggosok gigi 2x sehari, tidak lupa untuk membersihkan telinga serta lubang hidung setiap hari.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
No
Pemeriksaan
Hasil (22-12-2012)
Nilai Normal
1
HGB
13,3 g/dl
♀ 11,0 – 16,0 g/dl   ♂12,0 – 16,00 g/dl
2
WBC
5,1
4,8 – 10,8
3
RBC
4,71
3,5 – 5,5
4
PLT
183
150 – 450
5
WIDAL O
WIDAL H
Positif 1/600
Positif 1/600
Negatif 1/600
Negatif 1/600

TERAPI DAN PENATALAKSANAAN
a.       Kloramfenikol 4 x 500 mg sehari / IV.
b.      Tiamfenikol 4 x 500 mg sehari per oral.
c.       Kotrimoklazol 2 x 2 tablet sehari oral (1 tablet = sulfamelok sazol 400 mg + trimetoprim 80 mg) atau dosis yang sama IV, dilarutkan dalam 250 ml cairan infus).
d.      Amphisilin atau amoksilin 100 mg / kg BB sehari per oral / IV dibagi dalam 3 atau 4 dosis.

Diagnosa keperawatan
1.      Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan infeksi Salmonella Typhii
2.       Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia
3.      Gangguan keseimbangan cairan (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan pengeluaran cairan yang berlebihan (diare/muntah).
4.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan/bedrest.


Intervensi dan Implementasi

1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan infeksi salmonella typhi

Tujuan : suhu tubuh normal/terkontrol.
Kriteria hasil : Pasien melaporkan peningkatan suhu tubuh
Mencari pertolongan untuk pencegahan peningkatan suhu tubuh.
Turgor kulit membaik
Intervensi :

·         Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang peningkatan suhu tubuh
R/ agar klien dan keluarga mengetahui sebab dari peningkatan suhu dan membantu mengurangi kecemasan yang timbul.
·         Anjurkan klien menggunakan pakaian tipis dan menyerap keringat
R/ untuk menjaga agar klien merasa nyaman, pakaian tipis akan membantu mengurangi penguapan tubuh.
·         Batasi pengunjung
R/ agar klien merasa tenang dan udara di dalam ruangan tidak terasa panas
·         Observasi TTV tiap 4 jam sekali
R/ tanda-tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien
·         2,5 liter / 24 jam± Anjurkan pasien untuk banyak minum, minum
R/ peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak
·         Memberikan kompres dingin
R/ untuk membantu menurunkan suhu tubuh
·         Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian tx antibiotik dan antipiretik
R/ antibiotik untuk mengurangi infeksi dan antipiretik untuk menurangi panas.

 
2.      Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia

Tujuan : Pasien mampu mempertahankan kebutuhan nutrisi adekuat
Kriteria hasil :
- Nafsu makan meningkat
- Pasien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan porsi yang diberikan

Intervensi

·         Jelaskan pada klien dan keluarga tentang manfaat makanan/nutrisi.
R/ untuk meningkatkan pengetahuan klien tentang nutrisi sehingga motivasi untuk makan meningkat.
·         Timbang berat badan klien setiap 2 hari.
R/ untuk mengetahui peningkatan dan penurunan berat badan.
·         Beri nutrisi dengan diet lembek, tidak mengandung banyak serat, tidak merangsang, maupun menimbulkan banyak gas dan dihidangkan saat masih hangat.
R/ untuk meningkatkan asupan makanan karena mudah ditelan.
·         Beri makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering.
R/ untuk menghindari mual dan muntah.
·         Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antasida dan nutrisi parenteral.
R/ antasida mengurangi rasa mual dan muntah.
·         Nutrisi parenteral dibutuhkan terutama jika kebutuhan nutrisi per oral sangat kurang.

 
3.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan/bed rest

Tujuan : pasien bisa melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS) optimal.
Kriteria hasil :
-          Kebutuhan personal terpenuhi,
-          Dapat melakukan gerakkan yang bermanfaat bagi tubuh.
-          Memenuhi AKS dengan teknik penghematan energi.

Intervensi :

·         Beri motivasi pada pasien dan kelurga untuk melakukan mobilisasi sebatas kemampuan (missal. Miring kanan, miring kiri).
R/ agar pasien dan keluarga mengetahui pentingnya mobilisasi bagi pasien yang bedrest.
·         Kaji kemampuan pasien dalam beraktivitas (makan, minum).
R/ untuk mengetahui sejauh mana kelemahan yang terjadi.
·         Dekatkan keperluan pasien dalam jangkauannya.
R/ untuk mempermudah pasien dalam melakukan aktivitas.
·         Berikan latihan mobilisasi secara bertahap sesudah demam hilang.
R/ untuk menghindari kekakuan sendi dan mencegah adanya dekubitus.


4.      Gangguan keseimbangan cairan (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan cairan yang berlebihan (diare/muntah)

Tujuan : tidak terjadi gangguan keseimbangan cairan
Kriteria hasil :
-          Turgor kulit meningkat
-          Wajah tidak nampak pucat

Intervensi :

·         Berikan penjelasan tentang pentingnya kebutuhan cairan pada pasien dan keluarga.
R/ untuk mempermudah pemberian cairan (minum) pada pasien.
·          Observasi pemasukan dan pengeluaran cairan.
R/ untuk mengetahui keseimbangan cairan.
·         2,5 liter / 24 jam.± Anjurkan pasien untuk banyak minum
R/ untuk pemenuhan kebutuhan cairan.
·         Observasi kelancaran tetesan infuse.
R/ untuk pemenuhan kebutuhan cairan dan mencegah adanya odem.
·         Kolaborasi dengan dokter untuk terapi cairan (oral / parenteral).
R/ untuk pemenuhan kebutuhan cairan yang tidak terpenuhi (secara parenteral).




























REFERENSI

Baughman C Diane. (2000).  Keperawatan medical bedah, Jakrta: EGC.
Djojobudibroto, darmanto. (2009). RESPIROLOGI. Jakarta: EGC.
Doenges E Mailyn. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Ed3. Jakarta, EGC.
Hidayat AA, (2006), Pengantar Ilmu Keperawatan Anak, (Edisi 1). Jakarta: Salemba Medika.
Hidayat AA, (2006), Pengantar Ilmu Keperawatan Anak, (Edisi 2). Jakarta: Salemba Medika.
Lynda Juall. (2000). Diagnosa Keperawatan, EGC, Jakarta.
Mansjoer A, dkk. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga. Jakarta: Media Aesculapius FKUI.
Nettina, S.M. (2010). Lippincott Manual of Nursing Practice, edisi 9. Lippincott William & Wilkins.
Ngastiyah, (2005). Perawatan Anak Sakit. Edisi 2. Jakarta: EGC.
Nursalam dkk, (2005). Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Jakarta: Salemba Medika.
Pearce C, (2004).  Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: PT. Gramedia.
Price, Sylvia A., & Wilson, Lorraine M. (2005). Patofisiologi ; Konsep Klinis Proses–Proses  Penyakit  Vol. 1, Edisi 6, Jakarta: EGC.
Saifuddin, (2006). Anatomi Fisilogi Untuk Mahasiswa Keperawatan, Edisi 3. Jakarta: EGC.
Silbernagl, Stefan & Lang, Florian. (2007). Teks & Atlas Berwarna Patofisiologi. Jakarta: EGC
Smeltzer, S.C. & Bare, B. G. (2000). Brunner and Suddarth’s Textbook of Medical Surgical Nursing. 8th Edition. Alih bahasa : Waluyo, A. Jakarta : EGC
Smeltzer, Suzanne C. & Bare, Brenda G. (2005). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth  Vol. 2, Edisi 8, Jakarta: EGC.
Soepaman, S. W. (2001). Ilmu Penyakit dalam. Jilid II Edisi 3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Somantri, Irman. (2008).Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.
Suyono S, dkk. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ketiga. Jakarta : Blai Penerbit FKUI
Widjaja S. (2009). EKG Praktis. Tangerang: Binarupa Aksara